Pelajar SMA di Sembalun Tidak Diluluskan karena Terlalu Kritis

KoranNTB.com – Seorang pelajar SMA di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Aldi Irfan, tidak diluluskan oleh kepala sekolah karena terlalu kritis dan sering mengkritik kebijakan sekolah.

Siswa SMAN 1 Sembalun, Kecamatan Sembalun itu dikenal anak yang kritis sekaligus cerdas di sekolahnya. Sikap kritis ditunjukkan saat beberapa rekannya diusir dari sekolah lantaran telat hanya beberapa menit. Padahal, penyebab  rekannya telat lantaran dalam kondisi hujan dan ada perbaikan jalan menuju sekolah, sehingga saat becek. Aldi memprotes aturan tersebut.

Tidak hanya itu, kepala sekolah juga pernah menegurnya karena menggunakan jaket saat sekolah. Aldi pun mengkritisi kebijakan tersebut. Terlebih lagi kondisi Sembalun yang selalu dingin membuat jaket sangat dibutuhkan.

“Waktu itu kawan saya sudah melepas jaket malah dilempar bak sampah dan dipukul,” ungkap Aldi, Minggu, 19 Mei 2019.

Rusman, kakak kandung Aldi mengatakan kondisi kritis Aldi sangat wajar.

“Jalan-jalan licin dan hujan, kawan-kawan Aldi diusir dan gerbang dikunci. Itu yang diperjuangkan Aldi. Kemudian gara-gara jaket, padahal cuaca di sini dingin,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, kepala sekolah beberapa kali mengancam adiknya tidak diluluskan jika masih sering melawan aturan yang ditetapkan sekolah. Bahkan kepala sekolah mengutus dua guru ke rumah Aldi.

Aldi dan keluarga telah berupaya meminta maaf dengan dua kali menemui kepala sekolah di rumahnya. Namun Aldi tetap tidak diluluskan. Bahkan belakangan ini kepala sekolah berdalih permohonan maaf tidak diberikan lantaran Aldi dan orang tua ke rumah kepala sekolah pada hari Minggu, bukan jam kerja.

“Padahal kan minta maaf bisa kapan-kapan saja,” cetus Rusman.

Banyak guru Aldi membenarkan Aldi merupakan siswa paling teladan dan pintar di kelas. Karena ketekunannya, dia dipercaya menjadi ketua kelas. Bahkan, untuk Aldi juga terkenal tekun beribadah dan selalu mengajak rekannya salat berjamaah.

“Anak kami ini aktif di OSIS. Selalu membantu sekolah. Dia membantu mendatangkan donatur yang menyumbang puluhan Al-Qur’an,” ujar wali kelas Aldi, Ruhaiman.

Ruhaiman juga mengaku setahun yang lalu bersama guru lainnya telah memberikan masukan ke kepala sekolah yang baru bertugas di Sembalun, bahwa kondisi di Sembalun sangat dingin mencapai 11-13 derajat Celcius, sehingga siswa membutuhkan jaket. Namun alih-alih dikabulkan, justru kepala sekolah melarang siswa gunakan jaket.

Kepala Sekolah SMAN 1 Sembalun, Sadikin Ali, tidak menjawab pertanyaan wartawan. Beberapa kali dihubungi melalui sambungan telepon dan WhatsApp, Sadikin enggan menjawab dan membalas.

Sebelumnya, masyarakat menggelar aksi membela Aldi dengan seruan SMS serentak ke nomor Kepala Sekolah SMAN 1 Sembalun, Sadikin Ali. Masyarakat meminta hentikan tindakan fasisme dan anti kritik, serta berikan hak Aldi untuk lulus ujian akhir sekolah. (red/2)