Hilda Nurafriani, Pembunuh Ayah Kandung di Mata Tetangga

KoranNTB.com – Hilda Nurafriani membunuh ayah kandungnya Muh Nurahmad, Sabtu, 1 Juni 2019. Kejadian tersebut terjadi di Kelurahan Karang Baru, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Korban saat itu hendak membangunkan anaknya salat Ashar, namun sang anak yang juga mantan perawat justru marah dan menusuk ayahnya menggunakan pisau dapur. Korban terkena tusukan di bagian mata, dada dan pinggang.

Korban sempat dilarikan warga ke rumah sakit. Namun, nyawanya tak dapat tertolong lantaran kondisi luka parah. Sementara sang anak hingga kini ditahan di Polres Mataram.

Sosok Hilda sang pembunuh ayah di mata tetangga dikenal sangat tertutup. Dia jarang bergaul dan berinteraksi dengan warga atau tetangga. Dia selalu diam di rumah dan jarang keluar, semisal berbelanja di kios tetangga.

“Enggak pernah sama sekali (belanja ke sini), enggak pernah (ngobrol sama warga),” ujar tetangga pelaku, Rukmah, belum lama ini.

Rukmah mengatakan, dulunya Hilda aktif bergaul, namun sejak dia menyelesaikan S2 dan menikah di Jakarta, Hilda menjadi sosok yang tertutup dan penuh misteri.

“Dia sudah S2 di Jakarta, sempat nikah, cerai dan baru dari situ dia mulai tertutup,” ungkapnya.

Hilda baru tiga hingga empat bulan menikah, kemudian bercerita. Para tetangga tidak mengetahui apa penyebab perceraian tersebut. “Belum setahun menikah, dia cerai juga kita enggak tahu penyebab,” jelasnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Mataram, AKP Joko Tamtomo, melalui pesan pada media ini mengatakan Hilda Nurafriani tidak menderita gangguan jiwa. Hal tersebut karena tidak ada riwayat gangguan jiwa dari rumah sakit. Sehingga proses hukum tetap akan terus berjalan.

Sebelumnya, Hilda sempat dikabarkan membunuh ayahnya lantaran menderita penyakit jiwa. Selain itu, kabar lain yang beredar di antaranya membunuh ayahnya lantaran minta menikah namun tidak dijodohkan, disuruh ayahnya kerja, berhenti bekerja dari profesi sebagai perawat di rumah sakit dan lantaran status perceraian. Namun hal tersebut hanya sebatas asumsi karena motif awal pelaku melakukan pembunuhan karena dibangunkan salat. (red)