Ahli Geologi AS Minta Maaf Setelah Ungkap Potensi Gempa Lombok

KoranNTB.com – Ahli Geologi AS, Prof. Rolland A. Harris meminta maaf setelah memberikan pernyataan tentang potensi gempa di Selatan Lombok.

Dia mengatakan, setelah seminar kegempaan di Universitas Nahdlatul Ulama NTB dipublikasikan media, masyarakat NTB justru panik potensi gempa yang disampaikan.

Prof. Rolland sebelumnya menyebut potensi gempa di Selatan Lombok atau yang dikenal dengan zona subduksi. Di sana memiliki lempeng raksasa yang dikenal dengan lempeng Indo-Australia.

Melalui surat, mengucapkan permintaan maaf karena hasil penelitiannya bersama tim membuat rasa takut pada masyarakat.

“Saya meminta maaf atas rasa takut yang disebabkan presentasi saya tekait dengan hasil penelitian kami,” ucapnya, dalam surat yang diterima media ini, Senin, 15 Juli 2019.

Dia menjelaskan, berdasarkan penemuan mereka di lapangan, Palung Jawa sampai saat ini belum melepaskan energi yang
sudah terkumpul selama 500 tahun. Sedikitnya gempa bumi besar selama kurun waktu tersebut menandakan bahwa ada kemungkinan munculnya gempa besar dengan magnitude 8 hingga 9.

“Banyak yang bertanya ‘kapan?’ tapi itu adalah pertanyaan yang salah untuk gempa bumi karena tidak mungkin ada yang bisa mengetahui kapan pastinya. Kami hanya ingin memberi tahu potensi gempa bumi
di Palung Jawa dan perlu digarisbawahi bahwa palung ini memanjang dari Sumatra di barat sampai Sumba di timur, jadi belum tentu episenter gempa yang dimaksudkan akan terjadi di Lombok,” ungkapnya.

Dia menjelaskan potensi gempa hanya dapat diperkirakan tempat dan kekuatan, sementara waktu akan terjadi tidak dapat diprediksi. Prediksi kekuatan gempa berdasarkan sejarah kegempaan masa lalu di lokasi tersebut.

“Kami berharap masyarakat Lombok lebih berfokus pada kesiapsiagaan. Sebenarnya itulah maksud kedatangan kami ke Lombok, untuk membantu masyarakat memahami risiko dan mengajak untuk
meningkatkan kesiapsiagaan,” imbaunya.

Dia menyarankan agar masyarakat menghentikan pembangunan sebuah bangunan dengan material tidak bagus. Dia menganjurkan masyarakat menggunakan kayu.

“Tidak satu pun atau sedikit bangunan yang berbahan dasar kayu rusak karena gempa-gempa tahun 2018 di Lombok. Amankan barang-barang yang kemungkinan dapat menimpa anda ketika terjadi gempa,” jelasnya.

Bagi masyarakat di pesisir pantai, dia menyarankan menggunakan prinsip 20-20-20.

“Ketika merasakan gempa selama
lebih dari 20 detik, meskipun tidak besar gempanya, Anda hanus mengevakuasi diri setelah gempa berhenti. Kemungkinan besar tsunarmi akan tiba dalam waktu 20 menit setelah gempa dan kemungkinan ketinggian tsunami akan mencapai 20 meter, jadi harus mengevakuasi diri ke tempat yang tinggi atau gedung tinggi yang minimal ketinggiannya 20 meter,” paparnya.

“Saya meminta maaf sekali lagi kalau pemaparan saya mengejutkan banyak pihak, tetapi lebih baik masyarakat tahu sehingga
bisa mempersiapkan diri,” ucapnya. (red)