Peringatan HUT 61 NTB di KLU Khidmat dan Guyub

KORANNTB.com – Peringatan HUT Ke-61 Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2019 di Kabupaten Lombok Utara (KLU) dirangkai dengan upacara paripurna bulanan pemerintah daerah setempat, dihelat di lapangan Tioq Tata Tunaq Tanjung, Selasa, 17 Desember 2019.

Upacara yang berlangsung khidmat dan guyub tersebut diikuti oleh Pejabat Teras Pemkab Lombok Utara, ASN, unsur TNI dan Polri serta pelajar. Bertindak sebagai inspektur upacara Sekretaris Daerah KLU Drs. H. Suardi, MH.

Membacakan amanat Gubernur NTB  Dr.H.Zulkieflimansyah, Sekda H. Suardi mengatakan semua lapisan masyarakat perlu mendefragmentasi memori masing-masing untuk kembali kesepuluh atau kedua puluh tahun silam. Pada saat itu, jikalau ada orang bumi gora mengatakan NTB akan menjadi tuan rumah Moto GP, mungkin orang yang mendengarkan akan tertawa. Jika ada yang mengatakan NTB akan menjadi tempat berdirinya pabrik minyak kayu putih terbesar di dunia misalnya, sudah barang orang juga akan menertawai siapa yang berbicara tersebut. Begitupun halnya dalam aspek-aspek kehidupan yang lain.

Link Banner

“Mari kita ingat memori kepala kita dua dasawarsa lalu. Jika ada orang berbicara ada atlet-atlet NTB yang akan menjadi juara dunia dan atlet-atlet yang lainnya mempersembahkan medali demi medali pada ajang-ajang berkelas internasional, mungkin orang yang mendengar tidak akan sungguh-sungguh percaya. Artinya jika saat itu kita menyebut hal-hal yang menggembirakan dimana saat ini sudah di depan mata kita, mungkin orang akan menyebut kita berlebihan,” papar Suardi.

Namun di hari ulang tahun yang ke-61, lanjut Suardi, Provinsi NTB telah mencatat begitu banyak capaian menggembirakan. Anak-anak NTB kini tidak lagi perlu menunduk malu saat menyebutkan daerah asalnya. Mereka bisa menatap mata lawan bicaranya sembari berkata bahwa dirinya orang NTB.

“Tentu saja deskripsi ini bukanlah sebuah kebanggaan primordial yang sempit. Merenungkan hal-hal baik yang sudah kita capai sejauh ini, merupakan cara kita memacu semangat. Menjadikan setiap pencapaian sebagai hal yang membuat kita semua bisa tidur lebih lelap dan bersemangat menyambut matahari yang akan terbit besok pagi,” tuturnya.

Menurut sekda dua periode ini, semua warga NTB pernah berada di dalam gelembung yang membuatnya seperti terisolasi dari hal-hal baru. Sebuah gelembung yang sedemikian rupa membuat semua orang merasa tenang dan nyaman sekali berada di dalamnya. Kita tidak sadar bahwa di luar sana, dunia begitu bergegas. Orang-orang terus memacu langkah, bergerak lebih cepat serta berkembang lebih kuat. Tetapi sekarang gelembung itu sudah pecah,  dan kita sudah mulai menyejajarkan diri dengan tantangan-tantangan baru yang kita temukan dalam mengarungi bahtera kehidupan sehari-hari.

Bahkan, sambung Sekda, warga dunia pun telah mengetuk pintu kita, mendatangi dan menyapa kita dari berbagai penjuru. Arus informasi dunia tidak bisa kita tahan. Mulai dari jari kita, mengalir ke reseptor indra kita, bergesekan dengan relung-relung kepercayaan kita yang sudah tertanam sekian lama. NTB kini sudah tidak lagi sama. Sekarang, kita sudah menjadi bagian dari dinamika global yang begitu bersemangat. Kita telah bertekad menjadi aktor yang berperan penting dalam sejarah. Kita juga bisa mewujudkan mimpi-mimpi besar. Dan memang itu bukan tugas orang lain tapi tugas siapa pun yang menjadi warga bumi gora.

“Yang perlu kita lakukan sekarang adalah membangun kebersamaan. Semua yang kita capai saat ini bukan karya satu atau dua orang. Ia adalah buah kerja kolektif dari seluruh warga NTB bersama seluruh pemimpin NTB terdahulu,” ajaknya.

Suardi mengajak semua lapisan masyarakat KLU sebagai bagian dari warga NTB untuk menjadikan momentum HUT NTB ke-61 sebagai penanda waktu untuk merenungkan kembali tentang apa yang akan kita hadapi di masa depan.

Selain mempersiapkan agenda-agenda besar, semua lapisan dalam masyarakat akan berhadapan dengan sejumlah tantangan yang tidak kalah penting serta menggelisahkan. Hal ini lantaran adanya fakta permasalahan yang dihadapi bersama.

Kerusakan lingkungan telah melahirkan banyak sekali mudarat yang merugikan kita. Misalnya di musim kemarau kita dihadapkan dengan suhu yang begitu menyengat dan air bersih kian terbatas. Sementara di musim hujan, terancam oleh banjir, longsor dan cuaca buruk. Menyikapinya, kita tidak memiliki pilihan lain selain memperbaiki apa yang telah kita rusak, baik alam kita, hutan dan pohon-pohon yang kita tebang. Itu semua harus kita tumbuhkan lagi.

“Tidak ada orang lain yang wajib bertanggungjawab atas kerusakan ini kecuali diri kita sendiri. Jika kita tak mau melakukannya, alam akan memaksa kita untuk mempertanggungjawabkannya. Maka, diusia berikutnya, kita, pemerintah dan warga NTB secara keseluruhan wajib menjadikan pemulihan lingkungan sebagai prioritas. Pemerintah provinsi telah melakukan pencanangan gerakan NTB hijau, di Dusun Kayu Madu, Desa Labuan Badas, Kabupaten Sumbawa, Kamis, 12 Desember 2019,” seru sekda.

Suardi mengharapkan gerakan yang telah dicontohkan oleh Pemprov NTB tersebut harus diadopsi oleh seluruh pihak di KLU agar dijadikan langkah awal dari upaya-upaya untuk memulihkan lingkungan. Ia mengajak semua elemen daerah supaya menanamkan dalam relung keyakinan yang paling dalam, bahwa merusak alam adalah perbuatan hina yang berdampak buruk pada banyak orang. Dicontohkan, mereka-mereka yang menumbangkan pohon demi memenuhi keserakahannya, pada prinsipnya tidak hanya menumbangkan pohon saja. Tetapi menumbangkan kesempatan generasi masa depan untuk melihat indahnya hutan bumi Nusa Tenggara Barat.

Oleh karena itu, tandas Suardi, dalam meningkatkan indeks kualitas lingkungan hidup, Pemprov NTB telah mencanangkan serta terus mendorong program-program unggulan seperti tata ruang berkelanjutan, NTB Zero Waste, Bank Sampah, Penataan Geopark, Taman Asri, dan hutan produktif.

Dalam pada itu, Sekda Suardi juga menyampaikan tantangan lain yang akan dihadapi bersama pada jenjang usia berikutnya adalah komitmen menyatukan kekuatan-kekuatan yang terserak. Lantaran tahun depan ada tujuh kabupaten/kota di NTB yang akan melangsungkan suksesi kepemimpinan. Sebuah agenda rutin lima tahunan yang diekspektasikan menjadi medium lahirnya kepemimpinan yang lebih baik bagi NTB. Ia juga berharap siapapun yang akan terpilih pada suksesi nantinya ia adalah sosok pemimpin yang bisa memajukan daerah yang dipimpinnya.

“Adanya kompetisi yang sehat di antara para kontestan adalah suatu kewajaran dalam iklim demokrasi. Dalam demokrasi, kompetisi memang diperlukan lantaran diyakini dapat mendorong upaya untuk memperbaiki kualitas kepemimpinan kita,” sergahnya.

Ditegaskannya, pemimpin yang hidup dalam demokrasi wajib terus-menerus melakukan perbaikan demi perbaikan untuk mencapai kualitas kepemimpinan yang diharapkan. Sebab, dari suksesi yang satu ke suksesi yang lain, ekspektasi pemilih selalu menemukan formula baru. Oleh karena itulah, terang Suardi, setiap pemimpin dituntut peka meresapi gejala baik yang tampak di permukaan maupun yang berdinamika di bawahnya.

“Dalam konteks ini, pemimpin yang satu dan yang lain dituntut untuk saling adu gagasan, adu program, visi dan misi. Bukan justru menyemai benih-benih kebencian di antara pendukungnya,” tutur sekda mengingatkan.

Hal yang perlu dicamkan bersama bahwa persaingan yang saling menghancurkan sesungguhnya tidak ada pemenangnya. Laksana pepatah, menang menjadi arang, kalah menjadi abu. Sungguh pertarungan yang sia-sia. Dalam suksesi politik nanti, ingatnya, silang pendapat dan ketidak sepahaman pasti akan mengemuka. Tapi satu hal yang mesti digarisbawahi pentingnya jembatan pengertian dan saling memahami pasti tetap terbangun selama pintu komunikasi tetap dibiarkan terbuka.

Diingatkan sekda, di tengah kompleksitas iklim sosial, politik dan ekonomi saat ini, pemerintah daerah dalam wilayah Provinsi NTB menyaksikan bagaimana warga dan para pimpinan daerah masing-masing tetap berjibaku dan berlintang pukang bersama mendorong kemajuan demi kemajuan di daerahnya.

Suardi mencontohkan, dalam konteks KLU, pariwisata di tiga gili sudah kembali bersemi. Pun, terobosan dalam bidang kependudukan menjadi catatan yang menarik di KLU. Capaian ini didukung oleh kebijakan Bupati H. Najmul Akhyar yang telah berkomitmen, bahkan bayi yang belum turun dari ranjang tempat kelahirannya pun saat ini sudah memiliki akta kelahiran. Upaya ini diterapkan bersama-sama dengan terobosan lainnya di bumi Tioq Tata Tunaq. Begitupun halnya daerah lainnya di NTB masing-masing memiliki kebijakan, program unggulan, terobosan, strategi dan langkah-langkah teknis pengimplementasiannya.

Mengakhiri amanat gubernur, sekda mengingatkan bahwa semua lapisan warga NTB meyakini, ikhtiar yang telah dilakukan jauh lebih kompleks tinimbang hal-hal yang telah disampaikan dalam momentum HUT NTB ke-61 tahun tersebut.

“Ikhtiar dan mimpi-mimpi yang kita renda saat ini, sebagian mungkin akan menuai hasil menggembirakan. Sebagian lainnya mungkin akan menemui kegagalan. Tapi hasil akhir bukanlah ranah manusia. Maka tugas kita adalah menyatukan kekuatan. Bekerja bersama, menangis bersama, menguatkan persahabatan yang tulus dalam meniti jalan panjang pembangunan daerah. Hasilnya kita serahkan kepada Tuhan, pemilik takdir manusia. Selamat ulang tahun ke-61 provinsi NTB. Selamat berkontemplasi dan memasuki jenjang usia baru,” tutup sekda.

Rangkaian upacara HUT ke-61 NTB dan Paripurna Lombok Utara ditutup dengan pemberian piagam penghargaan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU sebagai perpustakaan kabupaten/kota terbaik tingkat Nasional dalam kategori implementasi transparansi perpustakaan berbasis inklusi sosial tahun 2019 oleh Sekretaris Daerah KLU. (red)

Link Banner
Link Banner