Terhadap Game Online, Ayah Bunda Permisif atau Otoriter?

Puteri Anggita Dewi
(Mahasiswi Prodi PIAUD STAINU Temanggung)

Keluarga berperan sebagai pendidik yang pertama dan utama. Peran ayah dan Bbnda dalam hal ini sangatlah besar, karena tak hanya mendidik secara materi namun juga karakter anak. Dalam perlakuan terhadap game online ini setiap orangtua tentunya memiliki pola asuh tersendiri. Secara garis besar, pola asuh yang biasa diterapkan pada anak ada dua yaitu pola asuh permisif dan otoriter.

Pola asuh dapat diartikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung perkembangan anak sejak bayi hingga dewasa. Perbedaan karakteristik setiap generasi meliputi perbedaan kepercayaan, keyakinan, karier, keseimbangan kerja, keluarga, peran gender, dan lingkungan pekerjaan mempengaruhi perbedaan pola dalam pengasuhan anak. Secara garis besar, pola asuh anak dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu pola asuh otoriter dan pola asuh permisif.

Link Banner

Pola asuh Otoriter merupakan sebuah pola asuh di mana anak didesak untuk mengikuti arahan orangtua dengan menempatkan banyak batasan dan hukuman terhadap perilaku anak. Pola asuh ini cenderung diterapkan oleh para orangtua yang notabenenya adalah generasi baby boomers (1946-1964) dan generasi X (lahir pada 1965-1979). Orangtua baby boomers dan generasi x menjadikan dirinya sebagai panutan bagi anak. Anak dituntut untuk mematuhi segala perintah orangtua dan tidak diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Orangtua tersebut cenderung membatasi bahkan melarang anak untuk bermain.

Pola asuh permisif merupakan sebuah pola asuh di mana anak diberi kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan apa yang diinginkannya dengan hanya menempatkan sedikit batasan atau larangan atas perilaku mereka. Pola asuh ini cenderung diterapkan oleh para orangtua yang notabenenya generasi digital atau milenial (lahir pada 1980-2000). Orangtua milenial cenderung membebaskan dan menuruti kemauan anak, termasuk keinginan anak untuk bermain.

Di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 ini teknologi berkembang semakin pesat. Digitalisasi semakin merasuki berbagai sendi kehidupan, salah satunya pada permainan. Zaman dulu, anak-anak lazimnya bermain berbagai permainan tradisional. Seiring berjalannya waktu, permainan tradisional ini posisinya kian tergerus dan perlahan tergantikan dengan game online.
Game online dapat diartikan sebagai sebuah permainan yang dapat diakses dengan media digital seperti handphone, tablet pc, laptop maupun komputer. Sekarang ini banyak dari para orangtua yang sudah memegangi anaknya dengan handphone. Dengan hanphone ini anak dikenalkan pada game online, yang menurut orangtuanya cara yang tepat agar anak tidak rewel.

Adanya game online ini tentunya menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun negatif. Dengan game online, anak diajak untuk belajar menjadi pemimpin. Disini anak memegang kendali atas berlangsungnya game. Selain itu anak juga dilatih untuk belajar berkompetisi secara adil dan melakukan pemecahan atas suatu permasalahan.

Selain dampak positif, game online ternyata juga memiliki dampak negatif. Bermain game online dapat menimbulkan kecanduan sehingga hambar rasanya bila sehari saja tidak memainkannya. Game juga dapat mengalihkan dunia anak sehingga anak lebih aktif dalam dunia maya daripada dunia nyata. Hal ini juga berpengaruh pada kemampuan bersosialisasi anak. Anak yang kecanduan game akan merasa bahwa game adalah segalanya sehingga ia menjadi cuek dengan lingkungan sekitarnya.
Kecanduan game juga berpengaruh pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, terpapar layar secara terus menerus akan menimbulkan gangguan mata karena berlebihan terpapar layar.

Secara psikis, dampak terburuk dari anak yang kecanduan game adalah dapat mengalami gangguan jiwa. Dilansir dari kompascom Kamis (31/10/2019) sebanyak delapan pelajar di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondhoutomo Kota Semarang karena terindikasi kecanduan gawai.

Mengutip pemberitaan dari beritasatucom (17/10/2019) selama 2019 Rumah Sakit Marzuki Mahdi kota Bogor telah menangani 10-15 pasien kecanduan game, ada tiga pasien yang sempat menjalani rawat inap. Ternyata selain memiliki dampak positif, game online juga memiliki dampak negatif yang cukup serius.

Setelah mengetahui dampak positif dan negatif dari game online, ayah bunda memilih pola asuh permisif atau otoriter?