Nyale Jelmaan Putri Mandalika, Tapi kok Dicaci Maki

KORANNTB.com – Suku Sasak di Lombok terkenal dengan kentalnya tradisi yang ramah. Hal itu terbukti dari ditemukan Lontar Rengganis yang berisi tentang adab dan budi pekerti masyarakat Sasak.

Lontar Rengganis memiliki pesan tentang tiga hal. Yaitu wirame atau cara bicara, wiraga atau performa mulai dari cara duduk, jalan, makan dan lainnya dan wirase atau cinta kasih.

Tradisi lainnya di masyarakat Sasak dikenal dengan tradisi Bau Nyale. Tradisi tersebut di mana ribuan masyarakat akan turun ke Pantai Seger dan pantai sekitar untuk mencari cacing laut atau nyale (disebut nyale berasal dari kata nyala).

Link Banner

Bau Nyale tidak semata-mata menangkap nyale, namun sebagai bentuk bukti patuhnya warga Sasak terhadap “Ubaye”, yaitu permintaan terakhir Putri Mandalika sebelum menjatuhkan diri ke laut.

Ubaye tersebut mengungkapkan janji Putri Mandalika yang akan datang setiap tahun pada tanggal 20 bulan 10 kalender Sasak.

Putri Mandalika merupakan tokoh sentral masyarakat Lombok yang rela mengorbankan diri demi tidak terjadinya pertumpahan darah. Konon dia membuang diri ke laut karena banyak pangeran akan mempersuntingnya. Jika dia memilih satu di antara banyak pangeran maka akan terjadi kecemburuan dan pertumpahan darah.

Namun seiring zaman, banyak masyarakat mencari nyale dengan melontarkan kata-kata cacian dan kata kotor lainnya. Mereka meyakini nyale akan muncul jika dipanggil dengan kata kotor.

Budayawan Sasak Lalu Putria

Tentu hal tersebut memantik tokoh adat untuk meluruskan paradigma keliru tersebut. Nyale diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika, sehingga sangat tidak sopan jika memanggil nyale dengan umpatan kasar.

Budayawan Sasak, Lalu Putria, menegaskan bahwa cara seperti itu adalah kekeliruan dan bukan menjadi bagian nilai-nilai adat Sasak.

“Harusnya kita menggali nilai-nilai budaya adi luhung yang berguna dan dapat membawa nama baik daerah,” katanya, Minggu, 10 Februari 2020.

Datu Siledendeng ini mengatakan, cara memanggil nyale dengan umpatan berawal dari saling guyon antara pemuda dengan temannya saat mencari nyale. Kebiasaan itu kemudian mulai menyebar saat mencari nyale, bahkan di setiap Festival Bau Nyale.

“Jangan kemudian hal-hal yang jelek kita pertahankan, itu alasan pembenaran, karena masyarakat di situ terutama yang muda-muda saling ganggu. (Cara memanggil Nyale dengan umpatan) itu kan tidak ada sumber yang dapat dipercaya,” ujarnya.

Festival Bau Nyale

Dia menjelaskan, dalam adat istiadat Sasak pandita telu yang mengatur: adat game atau hubungan manusia dengan Tuhan, adat tapsile atau hubungan manusia dengan manusia dan adat lawir game yang mengatur keselarasan manusia dengan alam beserta isinya.

Dijelaskan, Putri Mandalika yang menjadi sumber atau asal usul festival Bau Nyale memiliki filosofi pohon yang berguna bagi semua orang.

“Putri Mandalika mengajarkan sebuah filosofi pohon, mencari nutrisi makanan ke dalam tanah sampai puluhan meter, itu menghasilkan daun, bunga dan buah, tapi daun, bunga dan buah bukan untuk dirinya sendiri. Pohon tidak pernah mau tau untuk siapa daun, buah dan bunga dimanfaatkan,” katanya. (red)

Link Banner
Link Banner