Dilema NTB Menghadapi Corona

KORANNTB.com – Presiden Joko Widodo mengatakan, NTB berpotensi mengalami dampak yang buruk akibat virus Corona COVID-19.

Khusus di sektor buruh, skenario terburuk menurut pemerintah berada di Provinsi NTB. Penurunan pendapatan di provinsi tersebut bisa mencapai 25 persen.

Kalkulasi pemerintah tersebut untuk menyiapkan diri jika wabah Corona dapat membuat perekonomian lumpuh.

Link Banner

Sementara, Selasa, 24 Maret 2020 siang, Gubernur NTB Zulkieflimansyah telah mengkonfirmasi pasien asal NTB sebagai orang yang positif pertama COVID-19. Dengan adanya pasien pertama yang terkonfirmasi, maka NTB memasuki fase kedua penanganan Corona, yang sebelumnya berada pada fase pencegahan.

Memang pada fase pertama, beberapa tindakan pemerintah dilakukan untuk pencegahan, mulai dari libur 14 hari, penutupan lokasi wisata dan hiburan, larangan berkumpul dan berjabat tangan, penangguhan kedatangan kapal pesiar, menangguhkan salat Jumat, pelarangan Nyongkolan, larangan ke luar daerah dan negeri hingga penyemprotan disinfektan dan menyediakan hand sanitizer di pusat keramaian.

Namun, beberapa hal yang menjadi sorotan. Sebut saja, NTB saat ini masih membuka pintu masuk baik di bandara maupun pelabuhan. Ini dinilai menjadi potensi bagi meluasnya Coronavirus.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Nurhandini Eka Dewi, belum lama mengatakan di bandara dan pintu masuk lain terpasang thermo scanner. Alat itu secara otomatis mengukur suhu tubuh penumpang. Penumpang tidak perlu menunggu lama diperiksa satu persatu seperti menggunakan thermo gun. Dengan thermo scanner, setiap penumpang akan melewati pintu dan suhu tubuh mereka dapat terdeteksi lewat monitor.

“Begitu suhu tubuh di atas 38, ada tanda merah dan bunyi thermo scanner. Beberapa PDP (Pasien Dalam Pengawasan) tertangkap di bandara,” katanya.

WHO dalam laman resmi mengatakan, thermo scanner efektif mendeteksi suhu tubuh penderita Corona yang mengalami demam. Sayangnya, alat itu tidak akan bekerja membaca gejala Corona saat penumpang tidak mengalami demam. Sementara, penderita Corona dalam masa inkubasi (14 atau hingga 21 hari) tidak mengalami demam meskipun virus tersebut telah masuk dalam tubuh.

Dengan kata lain, potensi penyebaran Coronavirus masih bisa terjadi. Memang, opsi lockdown memiliki risiko yang besar untuk diberlakukan, karena selain menyebabkan karut marut sektor perekonomian, krisis di tengah masyarakat dapat terjadi. Namun opsi ini dinilai sebagian orang menjadi proteksi terbaik saat-saat ini.

Menghadapi pandemi tersebut, NTB berharap kesadaran masyarakat dengan social distancing dan physical distancing. Masyarakat diminta menjaga jarak secara fisik dengan kerumunan dan orang luar. Mereka dianjurkan diam di rumah dan mengurangi berpergian.

Imbauan Angin Lalu

Namun, anjuran pemerintah tersebut belum sepenuhnya dipatuhi masyarakat. Masih banyak kegiatan yang melibatkan kerumunan dilakukan masyarakat. Ketakutan akan wabah Corona hanya diluapkan di media sosial, namun interaksi sosial secara fisik masih terus dilakukan.

Bahkan, ironisnya, ini dilakukan salah seorang kepala daerah di NTB. Jumat lalu di Lapangan Sepak Bola Desa Ndano, Bupati Bima, Indah Dhamayanti Putri membuka Seleksi Tilawatil Quran (STQ) yang melibatkan keramaian.

Lima anggota DPRD Lombok Utara juga nekat melakukan kunjungan kerja di tengah larangan ke luar daerah. Wakil rakyat yang seharusnya memberikan contoh, justru sama sekali tidak tidak mengindahkan edaran Gubernur maupun Bupati.

Sisi lain, ketersediaan masker masih menjadi masalah di NTB. Retail modern, puskesmas dan pusat perbelanjaan masih sangat langka ditemukan. Meskipun, pemerintah mengatakan masker hanya untuk yang sakit, namun di tengah pandemi saat ini, orang sehat pun ingin proteksi diri.

Masalah hand sanitizer juga tidak kalah dengan masker. Cukup langka ditemui bahkan di Mataram yang menjadi epicentrum NTB. Di beberapa tempat memang telah tersedia untuk umum, namun masih cukup minim di titik-titik yang sering dikunjungi khalayak, sebut saja anjungan tunai mandiri (ATM), di mana masyarakat selalu menempelkan jari di tempat yang sama.

Sektor Pariwisata

Sektor yang paling awal terdampak Corona adalah pariwisata. Dengan beberapa lockdown yang dilakukan di negara-negara, berdampak besar bagi NTB yang saat ini begitu mengandalkan pariwisata.

Sebelum Corona masuk Indonesia, pemerintah berusaha menggairahkan kembali pariwisata NTB yang menjadi super prioritas dengan diskon hingga 50 persen, namun itu nyatanya tidak efektif di tengah pandemi. Okupansi hotel masih sangat rendah di tengah wabah Corona dan kondisi lost season.

Masih Ada Asa

Tuhan mungkin sengaja membiarkan Indonesia menjadi negara belakang yang terkena wabah tersebut, agar semua sama-sama belajar apa yang dilakukan bangsa lain menghadapi virus itu. Agar Indonesia bersiap dengan segala risiko.

Pandemi ini akan segera berakhir jika masyarakat sendiri yang mengakhirinya. Masyarakat harus betul-betul mematuhi saran pemerintah. Diam di rumah bukan berarti dikurung. Namun sangat efektif untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Hanya di tangan masyarakat yang dapat mengubah dunia saat ini. Batasi keluar rumah, hindari keramaian, jaga kesehatan dan selalu berolahraga.

Hanya di tangan masyarakat para tenaga medis dapat menghirup udara bebas melepas masker mereka, melepas penatnya baju kesehatan yang mereka gunakan.

Belajar pada Italia yang menjadi bom waktu di mana manusia dimangsa pandemi akibat tidak mematuhi anjuran pemerintah.

Masyarakat harus bersama melawan Corona, sehingga dapat berkumpul bersama orang-orang yang dicintai di Ramadhan nanti. Bukan, menanti mereka akibat terbaring di ruang isolasi, tanpa bisa disentuh dan dilihat lagi. (red)

Link Banner