Bau Nyale di Tengah Pandemi

Muhammad Awaludin, M.H
Dosen Astronomi Islam (Ilmu Falak)
UIN Mataram

KORANNTB.com -Masyarakat dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang mana setiap bagian dan unsur- unsurnya saling keterkaitan antar satu dengan yang lainnya.

Keterkaitan yang dimaksud adalah sebagai suatu sistem yang bulat dan tak terpisahkan. Kebudayaan sebagai produk dari seluruh rangkaian proses sosial yang dijalankan oleh manusia dalam masyarakat, memiliki peran penting dalam sejarah kehidupan masyarakat tersebut. Dengan demikian, maka kebudayaan dapat dikatakan sebagai hasil nyata dari sebuah proses sosial yang dijalankan oleh manusia bersama masyarakatnya.

Kebudayaan bagi manusia sangatlah memiliki fungsi dan peran penting, yaitu untuk melindungi diri terhadap alam sekitar, mengatur hubungan manusia dan sebagai wadah bagi segenap perasaan masyarakat.

Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sekalipun manusia mati tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan terwariskan pada keturunannya dan demikian seterusnya. Begitupun dengan tradisi dan kebudayaan bau nyale yang dimiliki oleh masyarakat sasak, bukan hanya sebagai identitas tetapi sudah menjadi kebudayaan yang mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Bahkan hingga saat ini event bau nyale menjadi salah satu event besar pariwisata di Pulau Lombok setiap tahunnya.

Namun di tahun 2021 ini event bau nyale secara tegas ditiadakan oleh pemerintah Kabupaten Lombok Tengah selaku tuan rumah. Bukan tanpa alasan, pandemi Covid-19 yang belum juga mereda serta minimnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan menjadi alasan utama peniadaan event ini.

Keputusan yang diambil oleh pihak pemerintah Kabupaten Lombok Tengah ini dianggap menjadi keputusan terbaik.  Sebab dari data tim gugus tugas COVID-19 NTB mencatat per tanggal 1 Februari 2021 jumlah pasien positif Covid-19 di NTB sebanyak 7.717 Orang dengan rincian 5.891 sembuh, 399 meninggal dunia dan 1.487 masih dalam isolasi (sumber BPBD NTB).

BACA:  Infrastruktur Adalah Hak Segala Bangsa

Selain itu pengetatan kegiatan sosial semakin gencar dilakukan oleh pemerintah dengan adanya perubahan aturan dari 3M menjadi 5M yaitu Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Menghindari Kerumunan dan Mengurangi Mobilitas. Ini mengindikasikan bahwa even-even besar seperti bau nyale belum bisa dilaksanakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Ketegasan pemerintah dalam upaya pencegahan penularan pandemi ini perlu diapresiasi, sebab pemerintah memliki tanggung jawab terhadap kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Sehingga keputusan-keputusan pemerintah seharusnya menjadi keputusan yang menyelamatkan rakyatnya.

Di sisi lain, bau nyale sebagai tradisi turun temurun masyarakat sasak tetap harus berjalan dan dilaksanakan. Pelaksanaan bau nyale oleh masyarakat merupakan sebuah keniscayaan, sebab bau nyale merupakan bagian dari siklus kehidupan kebudayaan masyarakat Sasak.

Prosesi bau nyale dalam masyarakat Sasak dilaksanakan dengan berbagai ritual adat, sehingga tidak sesimple hanya turun ke tepi pantai lalu mengambil nyale. Namun dengan adanya pandemi COVID-19 ini maka pelaksanaan bau nyale juga tidak bisa seheboh tahun-tahun sebelumnya dalam arti masyarakat melaksanakan secara terbatas.

Keterbatasan ini harusnya tidak mengurangi marwah dari ritual kebudayaan bau nyale tersebut, walaupun harus dijalani dengan protokol kesehatan yang dianjurkan. Masyarakat pun sebagai pemegang tradisi harusnya ikut saling memahamai terkait kondisi pandemi saat ini dengan berusaha semaksimal mungkin mengikuti anjuran pemerintah tentang tata cara berkegiatan dalam acara bau nyale ini.

Pemberian imbauan kepada masyarakat untuk tetap mengutamakan protokol kesehatan merupakan langkah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah, bukan pelarangan kegiatan kebudayaan. Pelarangan aktivitas kebudayaan sama saja dengan memutus salah satu siklus kehidupan masyarakat, sebab mereka hidup dan besar dengan kebudayaan tersebut. Sangat tidak elok jika pemerintah harus melarang apalagi sampai bertindak berlebihan pada sebuah pesta rakyat yang momentumnya hanya datang satu tahun sekali. Maka yang paling bijaksana adalah dengan tetap memberikan imbauan serta pengamanan untuk acara bau nyale yang diadakan secara tradisi dan mandiri oleh masyarakat Sasak.

BACA:  Hukum di Masa Kini

Kebijaksanaan pemerintah dalam mengambil tindakan dan keputusan terkait even budaya bau nyale sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sebab mereka secara kesadaran pribadi telah paham bagaimana harus bertingkah laku dengan arif dalam menjalan ritual budaya bau nyale ini.

Masyarakat membutuhkan pengamanan dan penertiban bukan pelarangan kegiatan. Sehingga dibutuhkan koordinasi yang baik antar pihak baik masyarakat maupun pemerintah dalam mengambil keputusan terkait bau nyale tahun 2021 yang akan jatuh pada tanggal 3 Februari 2021.