Tak Tersentuh Zero Waste, Mataram Barat Bekerja Nyata dengan Rumpil Inges

KORANNTB.com – Di saat program NTB Zero Waste banyak dikritisi, Kelurahan Mataram Barat justru lebih dulu melaju dan menunjukan kerja nyata pengelolaan sampah dengan membangun “Rumpil Inges”. Program pemerintah kelurahan Mataram Barat ini memperkuat partisipasi masyarakat, dikerjakan swadaya, dan tidak hanya sekadar slogan.

Rumpil Inges adalah akronim dari Rumah Pemilahan dan Pengolahan Sampah. Dibangun di lahan seluas 5,5 are di Lingkungan Karang Medain, Kelurahan Mataram Barat, Rumpil Inges menjadi pusat pengelolaan sampah terpadu.

Di sini sampah dikumpulkan dan dipilah organik dan anorganik. Dua jenis sampah kemudian diproses menjadi pupuk bagi sampah organik, dan menjadi barag kerajinan dan bahan daur ulang bagi sampah non organik.

“Penanganan sampah sebenarnya mudah. Tidak perlu konsep yang muluk-muluk, yang dibutuhkan langkah yang taktis, terukur, melibatkan warga, dan harus benar-benar tekun dikerjakan,” kata Lurah Mataram Barat, Sri Sulistiowati, Rabu, 17 Februari 2021.

Rumpil Inges merupakan program prioritas Kelurahan Mataram Barat yang digagas Sulis, sejak menjabat Lurah Mataram Barat,  Januari 2020 lalu. Program ini dimulai dengan program Informasi dalam Genggaman Masyarakat (Inges), sebuah progam berbasis aplikasi digital, yang diluncurkan Kelurahan Mataram Barat pada Februari 2020 lalu.

Aplikasi Inges diluncurkan tepat sebulan sebelum pandemi Covid-19 terasa di NTB, awal 2020. Dihajadkan untuk memudahkan pelayanan masyarakat secara online, Inges hadir pada moment yang tepat. Sebab, pandemi harus mengurangi pertemuan langsung dan menganjurkan masyarakat lebih banyak diam di rumah saat itu.

Dari aplikasi itu, pihak Kelurahan juga menjadi mudah memetakan masalah. Warga masyarakat di enam lingkungan yang ada bisa melaporkan masalah mereka. Termasuk soal sampah.

“Awal menjabat (Lurah Mataram Barat) keluhan soal sampah memang banyak. Terutama soal TPS yang ada di dekat jembatan pemakaman umum (TPU Karang Medain),” katanya.

Juni 2020, Sulis memutuskan untuk menutup TPS Karang Medain. Sebab, selain terkesan kotor dan bau, keberadaan TPS juga sangat menganggu pemandangan pelintas di wilayah Mataram Barat.

Bersamaan dengan penutupan TPS tersebut, Sulis menggencarkan Rumpil Inges. Masyarakat diberi sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya memilah sampah dari rumah. Tujuannya untuk memudahkan petugas kebersihan mengangkut sampah tersebut untuk dibuang ke TPS lain.

“Saat itu Pemkot Mataram menyediakan TPS di Lawata, cukup jauh. Sehingga operatir kami harus maksimal. Nah pilah dan pilih sampah dari rumah tangga, ternyata cukup efektif membantu,” katanya.

Dengan sosialisasi dan edukasi yang terus menerus, kinerja jajaran Kelurahan Mataram Barat yang berjibaku menyelesaikan masalah pengelolaan sampah akhirnya mendapat perhatian positif dari masyarakat di enam lingkungan di sana.

November 2020, saat Pemerintah Kelurahan kesulitan mencari lahan untuk program Rumpil Inges, seorang warga bernama Putu, bersedia memberikan lahannya seluas 5,5 are untuk dimanfaatkan Kelurahan sebagai lokasi Rumpil Inges.

“Lahannya milik warga yang peduli, kemudian pembangunan fasilitasnya sebagian dari dana di kelurahan, tapi sebagian besar lainnya dari partisipasi warga, dan beberapa donatur yang peduli,” kata Sulis.

Dengan Rumpil Inges ini, sampah organik dari sisa tanaman, rumput, batang dan ranting pohon, kayu atau semacamnya bisa diolah menjadi pupuk kompos menggunakan metode pelebur Mikro Organisme Lokal (MOL). Sementara sampah organik dari sisa makanan, akan diproses menjadi pupuk Takura.

Sedangkan sampah non organik, dipisahkan menjadi empat jenis. Sampah kertas, sampah botol atau kaca, sampah kemasan plastik, dan sampah botol plastik.

“Untuk organik kita proses menjadi pupuk. Sedangkan yang non organik, ada yang bisa dikumpulkan dan bernilai ekonomi dijual langsung, dan ada juga yang diproses menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis,” katanya.

Rumpil Inges kini sudah memproduksi pot tanaman dari bahan sisa pampers, dan juga puving block dari bahan plastik bekas.

Menurut Sulis, setelah mendapatkan lokasi lahan tersebut, pengelolaan sampah di Kelurahan Mataram Barat menjadi lebih mudah. Pemerintah Kelurahan menyediakan dua tempat sampah untuk masing-masing warga dengan tujuan memilah sampah dari rumah tangga. Sampah kemudian dibawa operator roda tiga sampah menuju Rumpil Inges untuk diproses.

“Sehingga Rumpil Inges ini bukan sekadar menjadi TPS sementara tetapi juga sebagai pengolah sampah. Ini juga akan membuka lapangan kerja dan nilai ekonomis bagi masyarakat juga,” katanya.

Ke depan, Rumpil Inges juga akan dilengkapi dengan wahana edukasi. Semacam sekolah alam dengan konsep coffee shop.

“Pengolahan sampah di Rumpil Inges ini mereduksi aroma buruk, jadi tidak berbau. Nantinya akan ada sarana edukasi di sini, ada bangku dan meja semacam coffee shop. Masyarakat yang mau belajar tentang pembuatan pupuk, dan juga kerajinan dari limbah sampah bisa nyaman datang ke sini,” katanya.

Sulis bersyukur gagasan programnya itu bisa diterima dan sangat didukung oleh masyarakat. Ia juga mengapresiasi Pemkot Mataram yang selalu mensupport program yang dilakukan pemerintah Kelurahan.

“Banyak support dari Pemkot Mataram ini kita syukuri. Kalau (Program) Zero Waste, mungkin karena belum ada koordinasi Pemprov dengan Pemkot ya. Saya juga baru paham tentang Zero Waste itu setelah  jadi Lurah (awal 2020),” katanya.

Ia mengatakan, dari Dinas LHK Provinsi NTB baru menawarkan bantuan pembiatan biopori di Rumpil Inges, dua atau tiga bulan lalu.

Rumpil Inges di lingkungan Karang Medain, Kelurahan Mataram Barat, rencananya akan diresmikan Walikota Mataram pada 21 Februari 2021 nanti. Peluncurannya bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

“Rencana kita juga akan mengundang Gubernur atau Wagub untuk menghadiri acara peresmian nanti,” kata Sulis.

Rumpil Inges di Mataram Barat, seolah menyentil program NTB Zero Waste yang beranggaran mencapai Rp31 Miliar di tahun 2020. Sementara Rumpil Inges dan aplikasi Inges bisa berbangga setahun setelah program digagas, Zero Waste masih mendapat banyak kritikan, meski Pemerintah Provinsi NTB mengklaim bahwa banyaknya kritikan merupakan wujud keberhasilan program. (red)