Anak IRT yang Lumpuh Tak Henti Bersedih Ibunya Belum Pulang

KORANNTB.com – Fakta yang membuat publik mengelus dada dari kasus empat ibu rumah tangga (IRT) yang ditahan Kejari Praya, Lombok Tengah kembali menjadi sorotan.

Fatimah, tersangka pelemparan spandek pabrik pengolahan tembakau milik UD MAWAR, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, telah lima hari berada di sel tahanan. Dia bersama tiga IRT lainnya ditahan sejak Selasa, 16 Februari 2021.

Anak Fatimah yang berusia sekitar delapan tahun menderita lumpuh. Baru dua bulan ia mengalami kelumpuhan setelah sebelumnya mengalami sesak napas. Diduga akibat polusi dari pabrik pengolahan tembakau yang setiap hari dihirup.

Semenjak sakit, anak Fatimah tidak dapat lepas dari pelukan ibunya. Dia selalu digendong dan dibawa ke mana saja ibunya beraktivitas. Bahkan, saat insiden pelemparan spandek gudang tembakau, Fatimah melakukan aksinya sembari menggendong anak dan divideokan oleh anak pemilik UD.

Kini, semenjak Fatimah ditahan, anaknya yang sakit keras harus berpisah dari gendongan ibunya. Dia diurus oleh ayah dan neneknya.

Namun, anak tersebut selalu bersedia. Sering memanggil ibunya yang belum kunjung pulang. Bahkan, saat wartawan mengunjungi rumah Fatimah, anaknya sangat lemas dengan wajah begitu sedih dalam gendongan ayahnya.

Tampak sama sekali tidak ada semangat. Dia selalu menidurkan kepalanya dalam bahu neneknya. Kakinya begitu kurus kering.

Pengacara Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Mataram, Yan Mangandar Putra, tidak dapat berkata banyak saat menceritakan kondisi anak itu.

Yan mengatakan, bau menyengat setiap harinya di lokasi pabrik pengolahan tembakau membuat Fatimah marah. Anaknya yang sakit, selalu sesak napas menghirup udara tak sedap di sana.

“Salah satunya yang anaknya lumpuh itu. Dia sambil gendong anaknya lempar spandek, karena kasihan dengan anaknya sesak napas terus,” ujarnya, Sabtu, 20 Februari 2021.

BACA:  Kasus IRT, Guru Besar Unram Layangkan Surat Terbuka untuk Kapolda NTB

Anak tersebut pernah dibawa berobat ke puskesmas. Pihak puskesmas hanya bisa menyarankan agar anak itu menghindari aroma rokok. Namun ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain protes kepada pabrik.

“Puskemas menyarankan agar anak dijauhkan dari tempat orang merokok. Dia mengalami sesak napas,” ujarnya.

Yan dan aktivitas perempuan mengunjungi rumah para IRT dan berkomunikasi dengan suaminya. Mereka bahkan melihat langsung gudang yang disebut dilempar hingga rusak oleh empat IRT tersebut. Faktanya, tidak ada kerusakan. Hanya spandek yang menempel di dinding penyok akibat bekas lemparan.

“Miris saya kalau bilang ada perusakan. Teman-teman lihat sendiri hanya penyok spandeknya. Tidak ada kerusakan, bahkan tidak bocor,” ujarnya. (red)