Link Banner

Pabrik Rokok yang Pidanakan 4 IRT di Lombok Diduga Palsukan Dokumen

KORANNTB.com – Empat ibu rumah tangga (IRT) di Dusun Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, mendekam di balik jeruji besi Kejaksaan Negeri Praya, Lombok Tengah.

Nurul Hidayah (38), Martini (22), Fatimah (38) dan Hultiah (40). Mereka merupakan warga Dusun Eat Nyiur yang diancam pasal 170 KUHP ayat (1) dengan ancaman pidana lima sampai tujuh tahun kurungan penjara atas tuduhan pengerukan.

Pabrik bernama UD Mawar melaporkan empat IRT atas tindakan pelemparan batu pada gudang rokok. Keempat IRT harus mendekam di sel. Parahnya, dua balita juga ikut berada di sel karena membutuhkan ASI dari dua IRT.

Relawan kemanusiaan terhadap keempat IRT, Dian Sandi Utama, mengatakan berdasarkan hasil investigasi di lapangan, terungkap bahwa UD Mawar adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan tembakau yang beralamat di Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng, dengan nomor perizinan SPPL :07/647/PTK/PPW.

Namun ternyata SPPL tersebut tidak benar-benar memiliki izin pembangunan pabrik di Dusun Eat Nyiur, melainkan di Dusun Peseng. Sehingga dengan alasan tersebut warga melawan pembangunan.

“Pertama, perusahaan ini tidak benar-benar memiliki izin untuk berdiri di Dusun Eat Nyiur, Desa Wajageseng. Karena izin SPPL dengan nomor: 07/647/PTK/PPW itu dinyatakan berdiri di Dusun Peseng, sehingga wajar warga melakukan penolakan,” kata Dian Sandi, Sabtu, 20 Februari 2021.

Selain itu, UD Mawar diduga kuat memalsukan dokumen tanda tangan kepala desa dalam proses pengurusan izin.

“Adanya dugaan pemalsuan dokumen, hal ini terungkap waktu hearing publik warga dengan pihak perusahaan pada tanggal 12 November 2020,” katanya.

“Warga menuntut APH untuk memperoses pemilik UD MAWAR secara hukum yang telah melakuan pemalsuan dokumen tanda tangan Kepala Desa dalam peroses pengurusan ijin UD Mawar,” jelasnya.

BACA:  Kasus 4 IRT di Lombok, KontraS Sindir Aparat

UD Mawar juga tidak memberi kontribusi terhadap masyarakat di dusun tersebut. Warga di sekitar perusahaan sama sekali tidak mendapatkan manfaat pembangunan perusahaan. Mereka justru menerima aroma polusi pabrik setiap hari.

“Fakta ini terungkap dari pernyataan beberapa warga kepada Lembaga Swadaya Masyarakat yang telah mendampingi dari awal permasalahan ini muncul,” kata Dian.

Selain itu, dari aspek lingkungan keberadaan UD Mawar telah menyebabkan warga mengalami sesak napas. Bahkan, salah satu anak IRT yang dipidana meninggal dunia akibat sesak napas diduga akibat sering menghirup polusi pabrik.

“Kades Wajageseng juga menyampaikan kepada kami bau menyengat dari pabrik membuat masyarakat sesak napas,” ujarnya.

Ini menambah kekesalan warga setelah empat IRT ditangkap lantaran melakukan protes. Dua balita pun ikut dalam gendongan ibunya mendekam di balik jeruji besi.

“Gudang mereka (UD Mawar) dilempar warga, itu karena mereka tidak bersedia memenuhi tuntutan aspirasi warga sekitar perusahaan,” kata Dian.

Dian juga membuat petisi di http://chng.it/yb7NmwX8 untuk menghimpun masyarakat memberi dukungan terhadap empat IRT tersebut.

“Semoga petisi ini mendapat dukungan dari masyarakat Lombok sebagai bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wejangan pihak perusahaan,” ujarnya. (red)

Link Banner
Link Banner
Link Banner