Link Banner

Serem… Cerita Khairunnisa Bertemu Dewi Anjani Penguasa Gunung Rinjani

KORANNTB.com – Dewi Anjani, sosok mitologi yang diyakini sebagian kalangan sebagai penguasa Gunung Rinjani menyampaikan pesan agar kearifan lokal setempat terus dirawat dan dilestarikan. Dewi Anjani juga meminta ada ritual khusus yang dilakukan agar keseimbangan alam tercipta, dan masyarakat Lombok terhindar dari mara bahaya dan bencana Gunung Rinjani.

“Dewi Anjani menyampaikan itu. Ritual ini harus dilakukan di jalur pendakian Senaru (Lombok Utara) dan Sembalun (Lombok Timur,” kata Ketua Ketua Kerukunan Masyarakat Adat Nusantara (Kermahudatara) Provinsi NTB, Khairunnisa, Kamis, 4 Maret 2021 saat dihubungi di Jakarta.

Khairunnisa mengatakan, pesan Dewi Anjani ini diperolehnya melalui laku spiritual yang dilakukan sejak kejadian Gempa Bumi Lombok 2018 silam. Namun belakangan, Dewi Anjani kembali muncul dan kerap menyampaikan hal yang sama.

“Waktu gempa Lombok 2018 dan sedang aktif menyalurkan bantuan, saya sudah sampaikan ini ke sejumlah pihak. Tetapi rupanya masih diabaikan. Dewi Anjani bersama saya, dan kembali beliau sampaikan itu sekarang,” kata Khairunnisa.

Ia mengungkapkan, ritual khusus yang diminta adalah semacam roah dan doa bersama. Masyarakat setempat di Senaru dan Sembalun bisa menggelar doa bersama ini.

Ketua Ketua Kerukunan Masyarakat Adat Nusantara (Kermahudatara) Provinsi NTB, Khairunnisa

“Ini harus dilakukan setiap tahun. Ya ritual adat dan budaya semacam roah, doa bersama agar terhindar dari bencana. Karena Rinjani ini bisa terjadi getaran gempa, gunung meletus, atau banjir besar. Tujuan ritual ini untuk menolak bala bencana,” kata Khairunnisa.

Khairunnisa memaparkan, secara esoterik Gunung Rinjani adalah tempat berkumpulnya spirit para leluhur nusantara. Eksploitasi keindahannya untuk sektor pariwisata tidak boleh mengabaikan hal tersebut.

Menurutnya, Gunung Rinjani juga sering dikunjungi spirit Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut selatan nusantara.

BACA:  Pendaki Asal Surabaya Tewas Terjatuh di Gunung Rinjani

“Ada banyak leluhur besar kita di sana, mereka tidak minta macam-macam, cukup dihargai dan alam lingkungan di sana dijaga. Tidak ada setan atau jin di sana, yang ada para leluhur kita,” katanya.

Ia mencontohkan, jika di dunia nyata ada tata cara dan adab dalam bertamu ke rumah atau ke kampung yang lain, maka di dunia astral pun demikian.

Mendaki Gunung Rinjani pun tak bisa sembarangan. Pendaki harus paham tata cara dan adabnya. Misalnya harus berlaku sopan dan santun dan tidak mengeluarkan kata-kata kotor, juga tidak boleh buang air kecil dan besar sembarangan. Termasuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Yang mendaki ada wisatawan, ada anak-anak muda, ini yang harus diberi pemahaman. Harus ada semacam juru kunci dari masyarakat adat di sana yang dipercayakan untuk menjaga aspek adat budaya ini,” katanya.

Menurutnya, hal ini pernah disampaikan termasuk ke pemerintah daerah. Namun banyak pihak yang menolak hal ini dilakukan.

“Banyak yang langsung menuding ini syirik. Padahal kegiatan ini ritual adat budaya. Saya ini muslim, dan keturunan kesultanan juga Islam sejatinya,” katanya. (red)

Foto: Gunung Baru Jari di Rinjani saat erupsi (PVMBG)

Link Banner
Link Banner
Link Banner