Polresta Mataram Bekuk 39 Pelaku Kejahatan Jelang Lebaran

KORANNTB.com – Polresta Mataram menggelar hasil pelaksanaan kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H Tahun 2021.

Sebagaimana diketahui dalam kegiatan rutin ini lebih terfokus pada kegiatan pemberantasan Kasus 3C (Curat,Curas,dan Curanmor).

“Hasil Ungkap kasus 3C yang digelar hari ini adalah hasil ungkap yang dilaksanakan sejak tanggal 14 April sampai dengan tanggal 09 Mei 2021, kata Kapolresta, Senin, 9 Mei 2021.

Kapolresta Mataram, Kombes Pol Hery Wahyudi, menjelaskan, dalam kegiatan rutin yang ditingkatkan kali ini, Polresta Mataram mengungkap sebanyak 24 kasus dengan jumlah pelaku 39 orang, yang terdiri dari pelaku dewasa sebanyak 26 orang dan 13 orang pelaku Anak.

Total ada 39 pelaku yang berhasil diamankan. Selain mengamankan pelaku, barang buktipun berhasil diamankan Polresta Mataram.

Sebanyak 51 unit barang bukti yang diamankan, terdiri dari Motor, Kulkas, PS 3, handphone, linggis, rokok, Baju, karpet, tabung LPG ukuran 3 Kg serta ban motor.

“Hasil ini dicapai berkat kerja keras dan kerjasama yang baik antara Sat Reskrim Polres dan Unit Reskrim Polsek Jajaran Polresta Mataram,” ujarnya.

Dijelaskan Heri, dari jumlah kasus yang diungkap dan jumlah tersangka yang diamankan selama pelaksanaan kegiatan rutin yang ditingkatkan, hasil capaian Polresta Mataram melampaui Satker lainnya se Jajaran Polda NTB.

“Terima kasih saya ucapkan kepada Sat Reskrim dan jajarannya atas dedikasi dan kerja kerasnya, saya sangat  apresiasi,” tukas Heri.

Disampaikan juga bahwa terhadap pelaku yang sedang dilakukan proses penyidikan ada beberapa perkara diselesaikan melalui mekanisme restorative justice (RJ). Penyelesaian kasus melalui mekanisme restorative.

Mekanisme RJ ini diupayakan berdasarkan Surat Edaran Kapolri Nomor 8/VII/2018 tentang penerapan Keadilan Restoratif (Restorative Justice).

Penerapan mekanisme tidak lah sembarangan. Karena harus memenuhi syarat materil maupun syarat formil. Di antaranya, barang bukti tindak pidana yang dilakukan nilainya kurang dari Rp 2,5 juta.

Berikutnya ada pengakuan dari pelaku tentang kejahatan yang dilakukan. Pelaku juga bukan residivis. Dengan syarat tersebut, kasus yang ditangani sudah dinyatakan selesai dan dihentikan.

“Iya itu di antara beberapa persyaratan kasus yang bisa diselesaikan melalui mekanisme restoratif justice. Kedua belah pihak juga baik korban dan pelaku ada pernyataan damai. Sehingga korban tidak menuntut,’’ bebernya. (red)