Mengapa Paham Wahabi Kini Tidak Laku di Arab Saudi

KORANNTB.com – Kemesraan Arab Saudi dan Wahabisme kini berangsur surut setelah reformasi yang dibawa putra mahkota Muhammed bin Salman (MBS).

Pemikiran-pemikiran konservatif Wahabi tidak lagi secara bebas dijumpai di sana. Rangkaian modernisasi di Arab Saudi mengantarkan menjadi Islam yang lebih moderat berkembang di negara tersebut.

Wahabi yang sebelumnya kental dengan domestifikasi perempuan, kini mendapat perlawanan dengan kebijakan kerajaan yang lebih condong menanggalkan sikap konservatif.

Perempuan kini diizinkan untuk mengemudi kendaraan, diizinkan menonton konser hingga bioskop. Ini tentu lebih diterima oleh masyarakat, khususnya milenial muslim di sana.

Kebutuhan diversifikasi tidak muncul tiba-tiba. Dari berbagai sumber menyebutkan, permintaan minyak Arab Saudi yang kian melemah, membawa rangkaian perubahan di bidang sosial, ekonomi dan agama.

“Polisi agama” yang ditakuti di negara tersebut, berangsur dikebiri dengan pengurangan tugas sebagai pengawas syariat tersebut.

MBS mendapatkan hati milenial muslim di sana. Hak perempuan berangsur-angsur pulih, setelah sebelumnya terkenang dengan rangkaian pembatasan ketat oleh paham konservatif Wahabi.

Peletak dasar ajaran Wahabi adalah Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab pada abad ke 18. Saat itu paham yang dibawa dikenal dengan nama Wahabisme dan menantang keras Sufisme.

Namun bukan berarti putra mahkota MBS menentang Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab. Dia berpandangan bahwa berkomitmen terhadap satu mahzab atau satu ulama saja, sama artinya dengan mendewakan manusia, yang tentunya ditentang oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

“Jika Syekh Muhammad Ibn Abd al-Wahhab bangkit dari kuburnya, dan melihat bahwa kita berkomitmen pada teksnya, sambil mengunci pikiran kita untuk ijtihad, dengan demikian mendewakannya dan meniupnya keluar dari proporsi, dia akan menjadi orang pertama yang menentang ini,” katanya, dilansir dari Sindonews.

BACA:  Kronologis Lengkap Penyerbuan Markas Assunnah di Lombok Timur

Dia mencontohkan, jika ada ulama terhormat yang mengeluarkan fatwa pada 100 tahun lalu, tanpa mengetahui apakah bumi itu bulat atau tidak, dan tidak memiliki pengetahuan tentang benua, teknologi dan sebagainya, namun hal tersebut dapat berubah dengan situasi saat ini. Pada akhirnya Alquran dan sunnah yang menjadi sumber otoritas, bukan lagi pandangan atau fatwa ulama lampau.

Reformasi Arab Saudi tidak hanya dilakukan dengan lembut. Para penantang tidak segan-segan untuk ditangkap.

Contohnya, penangkapan terhadap Sheikh Abdullah Basfar, salah satu qari’ ternama dan guru besar pada jurusan Syariah dan Studi Islam di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.

Kemudian yang paling banyak disoroti adalah Sheikh Suleiman Dweesh, seorang ulama terkenal yang kemudian meninggal di penjara setelah mendapat siksaan di penjara.

Kini, Islam moderat yang dibawa MBS mulai tumbuh subur di sana. Perempuan tidak lagi dilarang untuk beraktivitas di ruang publik. Suara perempuan yang dianggap sebagai aurat, kini mulai ditanggalkan dengan beragam kebebasan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. (red)

Ilustrasi bendera Saudi (Foto: AFP/OZAN KOSE)