Rencana Putin ke Bali, Ujian Diplomasi untuk Indonesia

KORANNTB.com – Perang Rusia-Ukraina layaknya mengungkit kembali eskalasi konflik global era Perang Dingin. Perang tersebut menimbulkan reaksi negara-negara Eropa dan NATO.

Banyak negara mengecam invasi pasukan Kremlin ke Ukraina. Bahkan banyak negara yang menjatuhkan sanksi ekonomi ke Rusia.

Namun tidak sedikit juga negara yang membela Moskow. Bahkan tentara Chechnya ikut berperang membantu Rusia.

15-16 November 2022 Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Tahun ini Jokowi menjadi Presidensi bergilir G20.

Indonesia tentunya mengundang semua negara anggota untuk hadir dalam KTT G20 di Bali nanti. Termasuk Rusia. Sayangnya, Ukraina bukan menjadi bagian anggota, sehingga tidak wajib untuk diundang.

Sikap netral Indonesia mengundang Putin menuai protes dan kritik dari Amerika dan negara sekutu lainnya. Mereka meminta agar Rusia dikeluarkan dari keanggotaan G20.

Tujuan dari G20 adalah memperkuat pembangunan ekonomi negara-negara anggota, mempermudah akses modal, hingg meningkatkan kemampuan bisnis masyarakat global. Namun, perang Rusia-Ukraina membuat ketegangan negara-negara di dunia, apalagi sesama anggota G20 telah menjatuhkan sanksi ke Rusia.

Desakan Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mendesak Indonesia mengeluarkan Rusia dari keanggotaan G20 sebagai sanksi atas invasi Ukraina. Sebagai ganti, Ukraina diminta hadir di Bali sebagai pengamat alternatif sidang KTT G20.

Amerika Serikat dan negara sekutu saat ini berencana untuk menendang Rusia dari keanggotaan G20. Namun sekutu Rusia seperti China, India dan Arab Saudi siap melakukan veto untuk mempertahankan Rusia.

Uni Eropa Hadang Putin

Negara-negara Uni Eropa mencoba menghadang Putin untuk datang ke Indonesia. Senada dengan Amerika Serikat, mereka meminta keanggotaan Rusia dicabut.

Polandia telah menyarankan kepada Menteri Perdagangan AS agar mereka dapat menggantikan Rusia ke Indonesia menghadiri KTT sebagai protes atas invasi ke Ukraina.

“Selama pertemuan dengan Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo, kami membuat pengajuan untuk mengecualikan Rusia dari G20, yang diterima dengan respons positif dan persetujuan, dan hal ini akan diserahkan kepada Presiden Biden,” ujar Menteri Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Polandai Piotr Nowak, dilansir dari DW.

BACA:  Mengapa Propaganda Pro Rusia Mendominasi Medsos Indonesia dan China

WTO Keberatan

Keberadaan Rusia dalam G20 menuai keberatan pejabat-pejabat di WTO. Apalagi G20 terkait dengan ekonomi global. Mereka tidak ingin memiliki kemitraan dengan negara yang melakukan invasi militer ke negara berdaulat.

Australia Serukan Boikot

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison menyerukan untuk memboikot KTT G20 Indonesia jika Rusia tetap hadir. Australia bahkan mengancam tidak akan datang ke KTT G20 jika Indonesia belum mengeluarkan Rusia.

Morrison mengaku telah menelepon Jokowi agar Rusia tidak diizinkan ikut. Namun respon Indonesia tetap netral.

Australia tidak bisa membayangkan duduk satu meja dengan Vladimir Putin saat KTT G20 Bali.

Kanada ke Jokowi: Tolak Putin

PM Kanada, Justin Trudeau telah berkomunikasi ke Jokowi untuk menolak Putin. Bagi Kanada, forum G20 akan menjadi tidak produktif jika Negara Beruang Merah masih menjadi anggota.

“Itu akan menjadi masalah besar bagi banyak negara, termasuk Kanada. (G20 adalah soal) bagaimana kami mengelola dan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia, ” kata Trudeu dikutip AFP.

China Dukung Indonesia

China memastikan dukungan terhadap Indonesia mengundang Putin dalam KTT. Bagi China, Indonesia merupakan negara yang netral dan bersikap adil terhadap semua anggota.

Duta Besar China untuk  Indonesia Lu Kang menyampaikan, tidak sepatutnya isu peperangan masuk dalam instansi multilateral. Apalagi G20 merupakan organisasi ekonomi dan finansial, sehingga tidak memiliki hubungan dengan perang Rusia-Ukraina.

Rusia Apresiasi Indonesia

Rusia memberikan apresiasi terhadap Indonesia yang bersikap adil sebagai presiden bergilir G20. Bahkan, Rusia menyebut Putin akan secara pribadi hadir di G20.

Bagi Rusia, konflik mereka dengan Ukraina yang merupakan bekas negara satelit Uni Soviet tidak ada hubungan dengan G20.

Kremlin juga menyebut skenario jika Rusia dikeluarkan dari G20 maka tidak menjadi bencana. Karena meskipun bergabung, negara-negara anggota juga telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Mayoritas peserta G20 melancarkan perang ekonomi ke Rusia, sehingga meskipun Rusia tetap menjadi anggota juga status masih belum berubah selama sanksi masih berlaku.

BACA:  Ini Daftar Negara Pendukung Ukraina dan Rusia dalam Perang

Sebaliknya, jika tanpa Rusia banyak negara yang kesulitan karena masih bergantung pada sumber daya milik Rusia, seperti gas. Bahkan Rusia kini memaksa negara yang dianggap oposisi membayar menggunakan mata uang mereka, rubel.

Inggris Minta Tinjau Ulang

Inggris meminta Indonesia meninjau ulang undangan KTT G20 ke Rusia. Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins mengatakan Putin tanpa dasar memutuskan melancarkan invasi, sehingga isu itu akan penting dibicarakan tanpa kehadiran Putin di Bali.

Ujian Diplomasi Indonesia

Ini merupakan ujian diplomasi bagi Indonesia untuk tetap bersikap netral terhadap dua negara yang sedang berkonflik. Seperti Perang Dingin dulu, saat negara terbagi menjadi Blok Timur dengan kekuatan Uni Soviet dan Blok Barat dengan Amerika Serikat, Indonesia memilih berada pada negara non blok.

Ujian diplomasi ini tidak akan membuat Indonesia dikucilkan bangsa lain jika memilih ritme yang tepat menanggapi perang Rusia-Ukraina.

Momentum KTT G20 Indonesia bisa dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai mediator konflik. Putin bisa hadir di Bali, disusul oleh kehadiran Ukraina sebagai pengamat alternatif meskipun bukan menjadi bagian keanggotaan G20.

Indonesia bisa saja menjadi mediator damai yang menghentikan konflik bersama negara anggota lainnya. Dan, menjadi sejarah jika KTT G20 Indonesia dapat mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. (red)

Foto: Presiden Jokowi/ist