Bapeltanbun NTB Gelar Bimtek Bagi Penyuluh Lapangan IPDMIP
KORANNTB.com – Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan (Bapeltanbun) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar bimbingan teknis bagi Penyuluh Pertanian dengan tema Penulisan Karya Tulis Ilmiah Terpublikasi yang mendapatkan kegiatan IPDMIP di NTB.
Pelatihan tersebut dihadiri 30 orang peserta dengan rincian 7 orang peserta dari Dompu, 7 orang dari Lombok Tengah, 7 orang dari Lombok Timur, 7 orang dari Bima dan dua orang penyuluh Provinsi NTB.
Kegiatan tersebut dibuka pada Rabu, 24 Agustus 2022 dan berakhir pada 27 Agustus 2022.
Kegiatan tersebut dibuka langsung Kepala Seksi Penyuluh Bapeltanbun NTB, Drs. H. Astawar. Dia mengatakan Bimtek bagi rekan-rekan Penyuluh Pertanian dengan pemateri dari Widyaiswara sangat penting terhadap aktivitas mereka yang dituntut untuk dapat mengetahui dan membuat jurnal atau karya tulis ilmiah yang terpublikasi.
“Begitu penting penulisan karya tulis yang dipelajari nanti. Bagi teman-teman Penyuluh Pertanian yang akan dibimbing dalam hal penulisan karya tulis terpublikasi semoga dapat memanfaatkan ilmu yang diberikan,” katanya.
Kunjungan lapangan pada Bimtek bagi penyuluh dilaksanakan pada Jumat, 26 Agustus 2022 bertempat di Fakultas Sains Terapan Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram. Para peserta antusias mengikuti setiap sesi pelatihan. Mereka juga aktif menggali pengetahuan dengan bertanya dan fokus menyimak setiap materi yang diberikan.

Seorang penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Saparwadi, sangat antusias mengikuti Bimtek tersebut. Dia yang sehari-hari bekerja di UPT Penyuluhan Hama Penyakit dan Kesehatan Hewan Kecamatan Kopang, sangat membutuhkan pelatihan publikasi karya tulis ilmiah untuk menarasikan setiap hasil pekerjaannya dan dipublikasikan ke masyarakat binaan di Desa Binaan di Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang.
“Manfaat untuk kita bisa menulis lebih baik, sehingga hasil pekerjaan kita di lapangan bisa kita publikasikan dengan narasi yang lebih baik. Sehingga orang yang membaca tulisan kita menjadi lebih tertarik,” katanya.
Dia mengatakan, Bimtek ini begitu besar manfaatnya bagi pekerjaan penyuluh di lapangan. Menarasikan setiap tulisannya untuk dikonsumsi masyarakat sangat penting.
“Sangat dibutuhkan karena kita kan kerja di lapangan. Hasil kerja di lapangan bagaimana bisa dijadikan narasi dan dipublikasikan. Itu biar masyarakat tahu,” ujarnya.
Widyaiswara Bapeltanbun Provinsi NTB, Adi Triyana Mihardja, mengatakan dalam Bimtek tersebut terbagi menjadi tiga materi. Materi pertama soal Policy Brief atau berkaitan dengan makalah kebijakan.
Pada materi tersebut, penyuluh akan diedukasi untuk berani memberi masukan terhadap stakeholder atau pemangku kebijakan terkait dengan pengetahuan penyuluh di lapangan.
“Karena mereka (penyuluh) yang lebih tahu di lapangan. Mereka bisa mengkritisi atau memberikan masukan ke pemangku kebijakan,” ujarnya.
Kemudian materi kedua terkait etika penulisan dan penyusunan karya tulis ilmiah. Pada materi tersebut ditekankan kepada peserta untuk selalu menghindar plagiat. Para penyuluh ditekankan untuk selalu memuat sumber tulisan dalam setiap karya ilmiah yang mereka tulis.
“Karena jujur, kita juga tidak sedikit menganggap remeh tulisan orang. Melalui pelatihan ini sebisa mungkin hindari plagiat dan selalu cantumkan sumber,” jelasnya.
Materi terakhir adalah karya tulis populer dan rencana tindak lanjut. Pada materi tersebut ditekankan agar para penyuluh berani menarasikan dan mempublikasikan tulisan mereka melalui berbagai saluran, agar sampai ke masyarakat. Saluran tersebut dapat berupa publikasi di koran atau media online.
“Karena membuat jurnal / karya tulis adalah tupoksi utama mereka. Sehingga tulisan mereka dapat dipublikasikan pada media,” ujarnya.
Adi Triyana mengakui antusiasme peserta dalam menerima materi. Itu dikarenakan membuat jurnal / karya tulis menjadi salah satu tugas pokok para penyuluh.
“Alhamdulillah peserta antusias karena kebetulan di salah satu tupoksi mereka diwajibkan membuat tulisan di publikasikan. Khusus IPDMIP mereka diminta melaporkan,” katanya.
Sejauh ini, menurut pengamatan para pemateri, para penyuluh telah memiliki kemampuan dasar untuk membuat jurnal ilmiah. Hanya saja, banyak yang belum percaya diri terhadap jurnal mereka sendiri. Sehingga pada diskusi ditekankan sikap percaya diri terhadap hasil karya tulis mereka.
“Mereka punya pengetahuan dasar, hanya saja jadi persoalan mereka kurang pede (percaya diri). Mereka berpikir apakah tulisan ini layak dimuat,” katanya.
“Sehingga kita memberikan motivasi untuk jangan takut mempublikasikan tulisan. Jika kemampuan terus diasah, maka jurnal yang dibuat akan baik juga,” sambungannya.
Lebih lanjut dia berharap agar peserta dapat menyerap segala ilmu saat Bimtek dan mengaplikasikan di lapangan. “Karena berhasil tidaknya Bimtek ini tergantung mereka (penyuluh) di lapangan,” katanya. (red)
