KORANNTB.com –  Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram) berhasil menemukan inovasi unggulan yang disebut sebagai “lamtoro beef”.

Lamtoro beef merupakan pakan sapi yang bersumber dari tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala).

Pakan sapi yang berasal dari lamtoro ditemukan guna mengatasi ketergantungan terhadap pakan sapi konvensional yakni jerami atau rumput-rumputan.

Link Banner

Sejak riset pertama kali dilakukan pada 2011 silam, Fakultas Peternakan yang dimotori Prof. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D berhasil menemukan bahwa tanaman lamtoro sangat representatif untuk dijadikan pakan sapi.

“Kenapa kita pakai lamtoro? Karena kita berada di kepulauan yang terbatas pakannya. Kita pilih jenis tanaman vegetasi yang mampu tumbuh di lahan kritis. Di samping itu juga proteinnya tinggi. Kelebihan lainnya, asam linoleat pada daging sapi jauh lebih tinggi ketimbang daging sapi yang diberi pakan konsentrat,” kata Dekan Fakultas Peternakan Unram Prof. Muhammad Ali, S. Pt., M.Si., Ph.D., saat ditemui di ruangannya pada Kamis, 6 Juli 2023.

Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan itu, pengembangan lamtoro beef itu digunakan untuk pengembangan sapi Bali (Bos Javanicus). Sapi Bali adalah sapi asli Indonesia yang sudah berkembang pesat di NTB dan bagian lain Indonesia Timur.

Prof Ali mendaku, ada dua permasalahan utama dalam meningkatkan mutu sapi Bali. Pertumbuhan yang lambat (sekitar 0,2 kilogram per hari) dan daging yang keras (alot).  Oleh karena itu Sapi Bali dianggap inferior dibandingkan dengan jenis sapi eksotik seperti Simmental atau Limosin.

“Kenapa kita pilih sapi Bali? Karena sapi Bali ini lebih adaptable dengan cuaca, sapi yang lain cepat stress. Karena itu kami terus mengembangkan penelitian yang bisa mendukung agar mutu sapi Bali di NTB sesuai permintaan pasar,” ujar dia.

Adapun jenis lamtoro yang dikembangkan dalam program ini adalah varitas Tarramba yang lebih toleran terhadap serangan kutu loncat (Heteropsylla cubana) yang banyak menyerang tanaman lamtoro.

Melalui riset terpadu tersebut, kata Ali lamtoro beef yang dihasilkan Unram telah menjangkau pasar internasional. Di mana,, pada event KTT G20 di Bali 2022 di Bali, daging sapi yang dikonsumsi oleh para pemimpin negara-negara tersebut adalah lamtoro beef hasil produksi Unram.

Di mana, inovasi lamtoro beef Unram berhasil meraih riset pendanaan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI di awal tahun 2023 ini.

Program yang pihaknya ajukan dalam PKKM itu diberi nama i-sapi (Integrated sustainable animal production inovation).

“Mulai masuk pasar internasional pada 2022 kemarin. Sejak saat itu sejumlah perusahaan di Indonesia juga mulai tertarik. Saat ini kita juga sudah melakukan kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri dari Australia, Inggris, Jepang, dan Korea,” jelas Prof. Muhammad Ali.

Ia menegaskan, pihaknya terus melakukan inovasi (riset) perihal lamtoro beef tersebut. Bahkan, kerjasama pertukaran mahasiswa dengan kampus ternama dunia.  Mulai, Filipina, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Malaysia terus dilakukan oleh Fakultas Peternakan yang kini menyandang akreditasi A itu.

Mengingat, lanjut dia, sebagai fakultas tertua di Unram, saat ini pihaknya memiliki sekitar 64 pengajar, 12 di antaranya adalah guru besar.

“Harapan besar kita menghadirkan peternakan berkelanjutan. Nanti tidak hanya dari lamtoro beef, kita juga bisa hasilkan steak, daging awetan (rarit) dan lain-lain,” kata Prof. Muhammad Ali. (red)