KORANNTB.com — Seorang warga negara asing (WNA) asal Belanda, Eduard William Theodoor Oostendorp, ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar kos di Dusun Kauman, Desa Labuhan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, pada Rabu (11/6/2025) sekitar pukul 18.00 Wita.

Korban ditemukan oleh warga sekitar yang curiga karena tak melihat aktivitas apa pun dari dalam kamar. Saat diperiksa, Eduard telah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kepala Bidang Humas Polda NTB, Kombes Pol. Mohammad Kholid, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat ini penyelidikan masih berlangsung dan polisi telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Korban ditemukan sudah tak bernyawa oleh salah satu warga,” kata Kholid, Jumat (14/6/2025).

“Saat ini, Satreskrim Polres Sumbawa masih mendalami kasus ini dan berkoordinasi dengan Imigrasi serta Kedubes Belanda.”

Sakit Menahun dan Tolak Dirawat

Eduard diketahui telah lama tinggal di Indonesia. Menurut keterangan saksi, pria asal Belanda itu menderita gangguan kesehatan cukup serius, terutama pada ginjal dan jantung. Ia sempat dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan di Sumbawa dan bahkan sempat dirujuk ke RSUD Provinsi NTB di Mataram.

Namun, meski kondisinya semakin menurun, korban memilih keluar paksa dari rumah sakit dan kembali ke Sumbawa. Ia menolak untuk dirawat lebih lanjut.

“Korban menolak dirawat dan lebih memilih kembali ke tempat tinggalnya,” ujar Kholid.

“Yang menjadi kendala tambahan, korban juga tidak mau memberikan kontak keluarganya di Belanda.”

Penolakan untuk memberi informasi soal keluarga membuat aparat kesulitan menelusuri keberadaan ahli waris. “Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” tambahnya, “karena tidak ada satu pun informasi yang bisa mengarah ke keluarganya di luar negeri.”

Polda NTB saat ini tengah menjalin komunikasi dengan Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sumbawa Besar serta Kedutaan Besar Belanda. Namun, proses penanganan jenazah terkendala biaya dan belum jelasnya pihak keluarga yang bisa dihubungi.

“Kami tengah menjalankan semua prosedur sesuai hukum dan aturan diplomatik,” jelas Kholid. “Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan tetap tenang.”

Polisi juga membuka ruang bagi masyarakat atau kenalan korban yang mungkin memiliki informasi terkait identitas atau kontak keluarga untuk membantu proses pemulangan jenazah.

“Informasi sekecil apa pun sangat berarti,” ujarnya. “Jika ada yang pernah berinteraksi dengan korban dan mengetahui latar belakangnya, kami sangat menghargai bantuannya.”

Seorang warga, Najwa binti Adnan, mengaku telah mengenal korban sejak tahun 2015. Menurutnya, korban memang sudah lama mengalami gangguan kesehatan.

“Beliau pernah cerita kalau ada cairan di perutnya dan dokter tidak bisa operasi,” ungkap Najwa. “Katanya terlalu berisiko.”

Meski kondisinya memburuk, korban tetap ingin kembali ke Sumbawa. “Beliau bersikeras pulang. Tidak mau dirawat lama di rumah sakit,” tambahnya.

Najwa menyebut Eduard adalah pribadi yang ramah namun tertutup. Ia jarang bercerita soal keluarganya dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kos.

Jenazah Eduard saat ini masih berada di RSUD Sumbawa. Berdasarkan hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.