Warisan Abadi Lalu Nasib, Berhasil Bawa Wayang Sasak Dicintai Semua Usia
KORANNTB.com – Dalang wayang Sasak legendaris, H. Lalu Nasib AR, telah berpulang pada Jumat, 29 Agustus 2025, di rumahnya di Perigi, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni tradisi Lombok. Namun yang abadi dari sosok ini adalah warisan karyanya: menjadikan wayang Sasak sebagai hiburan yang dicintai semua kalangan, lintas usia, lintas gender, dan lintas generasi.
Sejak menekuni dunia dalang pada 1965, Lalu Nasib tampil dengan gaya berbeda. Ia tidak hanya memainkan wayang sesuai pakem, tetapi memberi sentuhan segar melalui celoteh humoris, bahasa sehari-hari, dan improvisasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pertunjukan yang ia bawakan tidak hanya sekadar tontonan, melainkan juga menjadi sarana hiburan rakyat yang mampu memikat anak-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua, baik laki-laki maupun perempuan.
Wayang untuk Semua Kalangan
Selama puluhan tahun, pertunjukan wayang Sasak kerap dianggap hanya milik generasi tua. Namun kehadiran Lalu Nasib berhasil mematahkan anggapan itu. Dengan selera humor khasnya, ia menghadirkan tokoh-tokoh yang akrab dengan keseharian rakyat kecil.
Anak-anak, misalnya, begitu menyukai tokoh Inak Ocong dan Amak Ocong yang polos dan jenaka. Para remaja serta pemuda terhibur dengan guyonan segar dan cerita aktual yang ia sisipkan. Sementara kalangan dewasa meresapi nilai moral, filosofi, dan kritik sosial yang ia sampaikan lewat lakon wayang.
Pertunjukan Lalu Nasib selalu mampu membuat penonton tertawa bersama tanpa memandang usia.
Inovasi yang Membuat Relevan
Ciri khas lain dari Lalu Nasib adalah keberaniannya berinovasi. Ia menghadirkan benda-benda modern dalam lakon wayang, mulai dari cidomo, alat transportasi tradisional Sasak, hingga pesawat antariksa Apollo. Modifikasi itu semula terasa mengejutkan, namun justru menjadikan pertunjukan wayang lebih hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ia juga menciptakan tokoh-tokoh lokal seperti Amak Amat, Amak Baok, Inak Etet, dan Rerencek, yang merepresentasikan kehidupan masyarakat kelas bawah. Karakter-karakter itu membuat wayang Sasak semakin membumi, tidak hanya sebagai seni elit, tetapi juga hiburan yang dekat dengan realitas sehari-hari.
Jembatan Antargenerasi
Dengan gaya yang humoris, improvisasi yang segar, dan kecerdasan sosial yang tinggi, Lalu Nasib menjadikan wayang Sasak sebagai jembatan antargenerasi. Anak-anak bisa tertawa, remaja merasa terhibur, orang dewasa mendapat pelajaran, dan orang tua bernostalgia dengan pakem pewayangan lama.
Kepiawaiannya membuat wayang Sasak tidak lekang dimakan waktu, meskipun televisi dan media sosial terus berkembang. Pertunjukan Lalu Nasib tetap ditanggap hingga akhir hayatnya karena masyarakat merasa menemukan sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan di hiburan modern: tawa, kebersamaan, dan kearifan lokal yang dikemas dalam balutan cerita wayang.
Warisan yang Abadi
Kini, setelah sang maestro wafat, warisan seni dan kiprah Lalu Nasib menjadi aset berharga bagi Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Jumlah dalang wayang Sasak kian sedikit, namun nama Lalu Nasib akan selalu dikenang sebagai sosok yang berhasil membuat wayang Sasak dicintai lintas usia.
Wayang Sasak tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi tetap hidup sebagai hiburan yang menyatukan masyarakat berkat kreativitas dan ketulusan sang maestro.
Kepergian Lalu Nasib memang meninggalkan duka, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa seni tradisi akan selalu abadi jika mampu menyentuh hati masyarakat dari generasi ke generasi. Dan itulah warisan terbesar dari seorang maestro: menjadikan wayang Sasak milik semua orang, tanpa memandang usia dan latar belakang.