KORANNTB.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (Pemkab KLU) bersama Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) NTB berkomitmen menekan angka stunting yang masih tinggi di wilayah KLU. Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi gizi yang digelar PP Muslimat NU di Aula Kantor Bupati, Kamis (28/8/2025).

Sekda KLU, Anding Duwi Cahayadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa tingginya prevalensi stunting di daerahnya harus terus ditekan agar menurun secara signifikan. Karena itu, pihaknya mendukung setiap program edukasi yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, termasuk mengubah kebiasaan yang keliru dalam pemberian asupan bagi balita.

“Di sini informasi memang sangat terbatas. Masyarakat mengira kental manis itu kandungannya susu. Pertimbangan utama masyarakat biasanya ketika dicoba ke anak rasanya enak. Persoalan apa yang terjadi setelahnya, masyarakat belum peduli. Jadi pengetahuan masyarakat harus ditingkatkan,” jelas Anding.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kemiskinan dan pernikahan dini juga menjadi tantangan serius dalam pencegahan stunting.
“Pentingnya sosialisasi dan pencegahan terkait kemiskinan dan pernikahan dini, dua hal ini yang menjadi prioritas utama dalam menekan angka stunting,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. Bahrudin M. Kes, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya sosialisasi tentang susu yang benar kepada masyarakat. Menurutnya, masih banyak warga yang menganggap kental manis sebagai susu, padahal berisiko menimbulkan penyakit tidak menular di kemudian hari.

“Kita harus secara masif mensosialisasikan kepada masyarakat bahaya makanan dan minuman tinggi gula, termasuk kental manis. Kandungan gizinya jauh berbeda dengan susu lainnya. Gulanya lebih dari 50 persen, dan gula ini secara kesehatan tidak baik, sangat berpengaruh pada tren penyakit tidak menular,” jelas Bahrudin.

Ia menambahkan, salah satu langkah yang telah dilakukan Pemkab KLU adalah optimalisasi Posyandu Stunting.
“Saat ini sosialisasi sudah kita mulai melalui posyandu stunting. Diharapkan seluruh OPD ikut terlibat di sana bersama-sama, karena itu salah satu pintu untuk menekan angka stunting,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua III Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Sofihara, menegaskan kesiapan organisasinya menjadi mitra strategis dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Selain edukasi, Muslimat NU juga mendorong kadernya untuk berperan sebagai ibu asuh anak stunting.

“Lebih dari 20 kader Muslimat NU di wilayah KLU akan menjadi pendamping keluarga dalam menyediakan asupan gizi seimbang. Kami bergerak bersama para mitra dan Pemkab Lombok Utara agar tidak ada lagi anak yang tumbuh dengan gizi buruk. Edukasi dan pendampingan ini adalah langkah nyata untuk mewujudkan generasi emas 2045,” kata Erna.