KORANNTB.com – Donald Trump berencana akan mengambil alih Kuba  di tengah krisis energi yang melanda negara tersebut, termasuk pemadaman listrik nasional akibat runtuhnya jaringan kelistrikan akibat embargo dari AS sendiri.

Dalam laporan Al Jazeera, Trump disebut mengaitkan tekanan terhadap Kuba termasuk kebijakan pembatasan ekonomi dan energi sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki kepentingan kuat terhadap situasi di Kuba dan tidak menutup kemungkinan langkah yang lebih jauh, termasuk mengambil alih jika kondisi terus memburuk.

“Saya yakin saya akan… mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba,” kata Trump.

Pernyataan itu muncul saat Kuba mengalami krisis energi parah akibat kekurangan bahan bakar, yang diperburuk oleh pembatasan pasokan minyak. Kondisi ini menyebabkan sistem listrik nasional kolaps dan memicu pemadaman total di berbagai wilayah.

Pemerintah Kuba menilai tekanan dari Amerika Serikat sebagai faktor utama yang memperparah situasi domestik, sementara wacana yang dilontarkan Trump dinilai dapat meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan.
Sejumlah analis menilai, pernyataan Trump lebih bersifat politis dan bagian dari retorika kebijakan luar negeri yang keras terhadap Kuba. Namun demikian, isu tersebut tetap memicu kekhawatiran di tengah kondisi krisis yang sedang dihadapi negara itu.
Hingga kini, belum ada langkah konkret terkait pernyataan tersebut, sementara otoritas Kuba masih berupaya memulihkan jaringan listrik nasional dan menstabilkan pasokan energi.

Akhir-akhir ini kebijakan Trump membuat situasi global berada pada ancaman serius. Mulai dari menangkap presiden Venezuela, mengancam akan mengambil alih Greenland, menyerang Iran dan kini terbaru berencana mengambil alih Kuba.