China Kecam Keras Serangan Israel Terhadap Tentara Indonesia di Lebanon
KORANNTB.com – Tiga prajurit Indonesia yang tergabung dalam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan di Lebanon. Insiden ini memicu kekhawatiran internasional dan mendorong Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat.
Dilansir dari China Daily, pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa menyusul meningkatnya eskalasi konflik di perbatasan Lebanon-Israel, termasuk serangan yang menargetkan personel Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
Wakil Perwakilan Tetap China untuk PBB, Sun Lei, mengecam keras serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
China juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya personel Indonesia serta simpati kepada korban luka. Sun Lei menilai situasi di Timur Tengah terus memburuk dan berpotensi meluas jika tidak segera dikendalikan.
Ia mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil langkah menghentikan eskalasi. Selain itu, China juga meminta Israel menarik pasukannya dari wilayah Lebanon serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara tersebut.
“Lebanon tidak boleh menjadi Gaza yang lain, dan tragedi yang terjadi di Gaza tidak boleh terulang,” ujarnya.
Serangkaian insiden mematikan terjadi dalam waktu 24 jam terakhir. Dua penjaga perdamaian tewas dan dua lainnya terluka, salah satunya dalam kondisi serius, setelah ledakan menghantam kendaraan mereka di dekat wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan. Sebelumnya, seorang personel Indonesia juga tewas akibat serangan proyektil yang menghantam posisi PBB.
Terkait insiden tersebut, muncul klaim berbeda mengenai pihak yang bertanggung jawab. Perwakilan tetap Israel untuk PBB, Danny Danon, menyebut kelompok Hizbullah sebagai pelaku. Namun hingga kini belum ada bukti independen yang menguatkan klaim tersebut.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan penyelidikan masih berlangsung. Ia menyebut ledakan yang menewaskan korban kemungkinan berasal dari alat peledak rakitan (IED).
Sementara itu, Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, mengungkapkan bahwa lebih dari 1.200 orang telah tewas sejak eskalasi terbaru antara Israel dan Hizbullah.
Israel juga dilaporkan berencana memperluas operasi darat di Lebanon selatan serta memperbesar zona penyangga, yang memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan.
Sebagai informasi, UNIFIL dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 1978 dan saat ini melibatkan lebih dari 8.000 personel penjaga perdamaian dari hampir 50 negara.
