Kabar Duka, Tuan Guru Bagu TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin Wafat
KORANNTB.com – Kabar duka menyelimuti masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB). Ulama kharismatik sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, dikabarkan wafat pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Berdasarkan pengumuman resmi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin mengembuskan napas terakhir di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Provinsi NTB pada pukul 13.37 WITA.
Kepergian ulama yang akrab disapa Tuan Guru Bagu atau Datuk Bagu tersebut menjadi kehilangan besar bagi masyarakat NTB, khususnya kalangan pesantren dan warga Nahdliyin.
Tuan Guru Bagu dikenal sebagai ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan Islam, dakwah, serta pengembangan kehidupan keagamaan di Nusa Tenggara Barat.
Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda
Mengutip profil NU Online, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin lahir pada 1 April 1936 dari keluarga bangsawan suku Sasak. Sejak muda, beliau menekuni pendidikan agama dan kemudian memperdalam ilmu keislaman di Makkah selama kurang lebih 10 tahun sebelum kembali ke Tanah Air pada 1962.
Sepulang dari Makkah, beliau mendedikasikan diri untuk mengembangkan pendidikan Islam. Pada 1962, beliau merintis Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah Qomarul Huda. Setahun kemudian, pada 1963, beliau mendirikan Pondok Pesantren Qomarul Huda di Bagu, Kabupaten Lombok Tengah.
Pesantren tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang berperan dalam mencetak generasi santri di NTB.
Pengabdian Panjang untuk Nahdlatul Ulama
Selain berkiprah di dunia pesantren, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin juga dikenal sebagai tokoh penting dalam organisasi Nahdlatul Ulama.
Beliau pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Beliau juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Pengabdian panjangnya dalam bidang keagamaan membuat beliau dihormati oleh kalangan ulama, santri, dan masyarakat luas.
Kepergian Tuan Guru Bagu menjadi kehilangan besar bagi dunia pesantren dan masyarakat NTB. Keteladanan serta perjuangannya dalam mengembangkan pendidikan Islam diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga, santri, dan seluruh masyarakat yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
