Penulis: Ayu Mandarin (Mahasiswi UIN Mataram)

KORANNTB.com – Masyarakat Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur memiliki tradisi adat bernama Nyelamaq Dilauq atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘Selamatan Laut’. Tradisi ini ada sejak masa kolonial Hindia-Belanda di Indonesia.

Tradisi ini merupakan tradisi Suku Bajo yang kemudian lestari di Tanjung Luar yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Tradisi ini dengan cara menggelar upacara adat lalu melarungkan kepala kerbau di laut. Tradisi tersebut memiliki arti bahwa manusia dan laut adalah ciptaan Tuhan yang sama-sama saling menjaga.

Tradisi Nyelamaq Dilauq memang tidak hanya ada di Desa Tanjung Luar, tetapi wilayah lain seperti Sulawesi dan Madura juga memiliki ritual tersebut. Keunikan di Tanjung Luar karena memiliki tradisi saling siram menggunakan air laut

Ritual adat Nyelamaq Dilauq digelar di rumah adat Sarapo (Rumah adat Suku Bajo Tanjung Luar). Kemudian puncak acara digelar di Pelabuhan Perikanan Tanjung Luar yang ditutup dengan acara saling siram.

Siram-siram sendiri dimaknai sebagai simbol pembersihan hati. Acara penutup ritual dengan saling siram air agar bersih dari segala noda dan dosa. Harapannya setelah ritual ini terlaksana semua nelayan bersih hatinya.

Rangkaian tradisi Nyelamaq Dilauq di Desa Tanjung Luar (sumber: website Desa Tanjung Luar)

Kegiatan ritual budaya Nyelamaq Dilauq ini tidak sesederhana yang dilihat. Ada sebuah proses panjang yang digelar hingga lima hari sebelum puncak acara melarung (melepas) kepala kerbau di laut dan saling siram antar warga.

Sebelumnya, sebagai rangkaian dari ritual ada proses penunjukan Sandro. Sandro ini merupakan turunan tokoh adat. Sandro ditetapkan satu orang sebagai Sandro Utama. Sandro Utama inilah kemudian menunjuk anggotanya. Tiga laki-laki dan dua perempuan.

Oleh para Sandro kemudian menyiapkan bahan-bahan ritual. Pemilihan kerbau yang akan disembelih bukan kerbau sembarangan. Sang Sandro mencari kerbau di peternak dan pasar ternak. Kerbau ini mengangguk sebagai tanda persetujuan saat berkomunikasi dengan Sandro.

Pada tanduk kerbau juga dipasang emas seberat tiga gram (dulu 10 gram). Pada badan kerbau juga dikenakan kain putih yang usianya sudah ratusan tahun.

Sebelum memulai ritual, masyarakat setempat mengarak seekor kerbau keliling kampung selama tiga hari berturut-turut untuk kemudian disembelih. Kepala kerbau inilah yang kemudian dibuang ke tengah laut. Pembuangannya inilah yang kemudian disakralkan dalam ritual khusus masyarakat Desa Tanjung Luar yang disebut dengan istilah Nibak Tikolok (Melarung Kepala Kerbau).

Kepala kerbau ini yang disertai benang-benang emas dilepas beramai-ramai. Bahkan, nyaris semua Masyarakat Desa Tanjung Luar ikut melepas menggunakan sampan ke tengah laut di gugusan sebuah terumbu karang cincin. Jaraknya berkisar 1-3 mil dari daratan.

Riuh ritual ini semakin kental ketika suara Sarone (gendang) berpadu dengan suara hiruk pikuk nelayan di sampan. Puluhan, bahkan ratusan sampan dilayarkan dalam ritual ini.

Rangkaian tradisi Nyelamaq Dilauq di Desa Tanjung Luar (sumber: website Desa Tanjung Luar)

Tempat pelepasan kepala kerbau di lokasi terumbu karang ini sudah ditentukan sejak ratusan tahun silam. Sebelum melepas kepala kerbau ini, pemangku adat akan mendapatkan tanda atau bisikan. Baru kemudian rombongan nelayan akan berangkat menggunakan perahu.

Dilansir dari website resmi Desa Tanjung Luar, proses pelepasan kepala kerbau pada acara Nyelamaq Dilauq ini tidak bisa ditunjukkan oleh orang biasa. Ada sejumlah masyarakat dalam kondisi tidak sadar (kesurupan) yang akan menunjukkan lokasi tempat terumbu karang berada. Tempat ini juga dipercayai sebagai lokasi menghilangnya salah satu tokoh Desa Tanjung Luar pada masa sebelum ritual dilakukan.