Investasi Masa Depan: Bagaimana Kolaborasi AMMAN dan Pemprov NTB Memutus Rantai Stunting & Pernikahan Anak?
KORANNTB.com, SUMBAWA BARAT – Di tengah masifnya operasional pertambangan, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) membuktikan bahwa keberhasilan korporasi tidak hanya diukur dari tonase emas dan tembaga, tetapi dari ketahanan sosial generasi penerusnya.
Tepat pada perayaan Hari Jadi NTB, Gubernur Lalu Muhammad Iqbal memberikan penghargaan tinggi kepada AMMAN atas inisiatif perlindungan anak yang dinilai sistematis, terintegrasi, dan yang terpenting terinstitusionalisasi melalui kebijakan desa.
Berikut adalah 6 pilar data yang menjadi alasan mengapa inisiatif AMMAN di 16 desa Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menjadi standar baru kolaborasi sektor privat dan publik:
1. Reformasi Hukum di Tingkat Akar Rumput
Bukan sekadar bantuan sosial (CSR) yang habis sekali pakai, AMMAN mendorong perubahan struktural melalui payung hukum:
-
16 Desa kini memiliki Peraturan Desa (Perdes) Desa Ramah Perempuan dan Proaktif Anak (DRPPA).
-
Replikasi Masif: Model ini telah diadopsi oleh Pemerintah KSB di 18 desa tambahan menggunakan dana APBDes.
-
Benteng Hukum: Melatih 78 kader paralegal dan 29 fasilitator anak untuk memastikan perlindungan hukum hadir di depan pintu rumah warga.
2. Perang Melawan Stunting: Hasil yang Terukur
Melalui Program Percepatan Pengurangan Stunting di wilayah lingkar tambang, AMMAN mencatatkan angka keberhasilan yang signifikan terhadap 436 anak sasaran:
-
32% Anak berhasil keluar sepenuhnya dari status stunting.
-
86% – 98% menunjukkan peningkatan berat badan ke level normal.
-
Dampak Makro: KSB kini menyandang status sebagai wilayah dengan tingkat stunting terendah di seluruh Provinsi NTB.
3. Literasi Kesehatan dan Remaja
Mencegah masalah jauh sebelum dimulai, program “Lingkar Remaja” (Youth Circle) menyasar fondasi kesehatan reproduksi:
-
426 Siswa tingkat SMP dan SMA mendapatkan edukasi komprehensif.
-
Fokus: Pencegahan anemia dan pemahaman kesehatan reproduksi untuk menekan angka pernikahan dini yang menjadi akar masalah sosial di NTB.
4. Pengakuan Nasional: Predikat “Madya” KLA
Inisiatif ini menjadi mesin penggerak bagi Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk naik kelas secara nasional. Pada tahun 2025, KSB sukses meraih predikat “Madya” (Menengah) sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA), berkat implementasi perlindungan anak yang mampu menembus hingga level birokrasi desa terkecil.
5. Ekosistem Kolaborasi Global
AMMAN tidak bergerak sendiri. Proyek ini merupakan orkestrasi besar yang melibatkan mitra strategis internasional dan nasional, di antaranya:
-
Konsorsium PBB: UNICEF, UNFPA, dan UN Women.
-
Lembaga Non-Profit: Yayasan CARE Peduli dan LPA NTB.
-
Pemerintah Daerah: Sinergi langsung dengan visi Gubernur NTB.
6. Visi Sosial: Melampaui Keuntungan Ekonomi
“Bagi kami, perlindungan anak adalah landasan masyarakat yang sehat… Kami membangun benteng perlindungan sekaligus jembatan bagi impian mereka.” Priyo Pramono, Wakil Presiden Dampak Sosial AMMAN.
