Pasca Panen, Petani Garam di Bima Keluhkan Harga Merosot

KoranNTB.com – Panen garam tahun ini menjadi terburuk bagi petani garam di Desa Talibiu, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Harga garam musim ini merosot tajam.

Link Banner

Seorang petani garam, Dae Ediwan, mengatakan pada musim panen ini, pengepul hanya mampu membeli seharga Rp20 ribu/zak dengan isi 55 kilo setiap karung.

“Kondisi ini berbeda dengan nilai jual garam yang biasa dibeli seharga Rp35 ribu dan bisa sampai dengan Rp40 ribu per karung,” ujarnya dihubungi, Minggu, 12 Mei 2019.

Dae mengaku sebagai warga setempat sangat menggantungkan hidup menjadi petani garam. Sehingga dia sangat terpukul jika harga garam merosot.

“Merosotnya harga garam sudah pasti saya hanya mendapat harga capeknya saja,” ungkapnya.

Dia menuturkan, harga garam saat ini hanya mampu dibeli oleh pengepul yang biasa mengambil garam seperti PT Budi Yono, dengan harga paling tinggi Rp10 ribu.

“Banyak petani yang mengeluhkan kondisi turun drastisnya harga garam ini. Saya harap pihak pemerintah daerah bisa membantu para petani  garam di Desa Talibiu, di mana usaha ini merupakan komoditas utama dalam menetapkan profesi di dalam hidupnya,” jelasnya.

Dae dan petani garam lainnya berharap pemerintah dapat menambah pabrik garam di Bima, sehingga ada persaingan pasar yang sehat. Petani garam tidak dimonopoli oleh satu perusahaan. (red/3)