BPBD NTB Pasang Rambu Evakuasi dan Dirikan Desa Tangguh Bencana

KoranNTB.com – Potensi bencana di Indonesia selalu ada, karena sudah menjadi konsekuensi nusantara berada pada ring of fire atau cincin api Pasifik, dengan dikelilingi gunung api.

Namun, upaya untuk meminimalisir korban saat bencana perlu digalakkan khususnya di NTB, karena dari 14 jenis bencana yang ada, NTB memiliki 11 jenis potensi bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, H. Ahsanul Khalik, menjelaskan prinsip NTB yang mantap dan tangguh dalam misi mewujudkan NTB gemilang. Untuk itu, dia menekankan semua harus paham jenis bencana dan cara mengatasinya.

Ahsanul Khalik menjelaskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB dan BPBD NTB sendiri telah mengantisipasi bencana dengan melakukan langkah-langkah komperhensif.

Sebanyak 80 titik rambu-rambu jalur evakuasi tsunami telah dipasang dan tersebar di NTB. Wilayah yang berpotensi tsunami memiliki plang petunjuk arah evakuasi.

“Sekitar 80 titik sudah dipasang dan tersebar sejak empat tahun lalu di sepanjang Pantai Ampenan, tiga Gili hingga Labuan Haji,” ujarnya di Mataram, Jumat, 12 Juli 2019.

Tidak hanya itu, rambu-rambu evakuasi juga terpasang di Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Barat, KSB, Dompu dan Kabupaten Bima.

Petunjuk arah evakuasi berfungsi memudahkan masyarakat saat gempa besar terjadi. Masyarakat dapat melalui jalur evakuasi yang disediakan untuk menyelamatkan diri. Jalur evakuasi akan mengarahkan masyarakat ke tempat lebih tinggi sehingga tidak terjangkau tsunami.

Tidak hanya itu, BPBD NTB juga telah membentuk 36 desa tangguh bencana. Seperti di Kota Mataram, terdapat dua kelurahan di pesisir yang menjadi wilayah tangguh bencana. Dua wilayah tersebut yaitu Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela dan Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan.

“Di Lombok Utara, desa tangguh bencana didirikan di Desa Pemenang Barat, Gili Indah,  Desa Pemenang, dan Desa Bantek di Kecamatan Gangga,” jelasnya.

Lombok Barat, di desa Senteluk,
Kecamatan Batulayar, Desa Lembar Selatan, Labuan Terang, Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Desa Lembuak dan Badrain di Kecamatan Narmada.

Desa tangguh bencana di Lombok Timur didirikan di Desa Lenting, Kecamatan Sakra Timur, Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, Kelurahan Selong dan
desa Mekar Sari, Kecamatan Suela.

Kabupaten Lombok Tengah di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Desa Pemepek, Kecamatan Pringgarata, Kelurahan Tiwugalih, Kecamatan Praya, Desa Karang Sidemen, Batukliang, Desa Aik Berik, Batukliang Utara dan Desa Kuta, Kecamatan Pujut.

Kemudian, di Desa Sangeang dan Desa Tadewa, Kabupaten Bima. Di Kota Bima ada di Kelurahan Dodu, Rasanae Timur, Kelurahan Manggemaci dan Kelurahan Metakando, Kecamatan Mpunda. Di Dompu ada di Kelurahan Kasri Jawa dan Kelurahan Potu, Kecamatan Dompu dan Kendai Dua, Kecamatan Woja.

Sumbawa di Desa Pelat, Kecamatan Unter Iwes. Kabupaten Sumbawa Barat di Kelurahan Sampir, Kecamatan Taliwang dan Desa Seteluk, Kecamatan Seteluk.

Semua desa tangguh bencana telah diberikan sosialisasi, mitigasi tentang pemahaman bagaimana menyelamatkan diri saat terjadi bencana.

“Sosialisasi dan pemahaman tentang bencana sudah dilatih sejak 2011 hingga 2018, dilatih untuk pemahaman tentang kebencanaan,” jelas Ahsanul Khalik.

BPBD NTB juga bekerjasama dengan BMKG untuk memasang sirene tsunami di beberapa titik yang dikendalikan oleh BPBD pusat.

Dia juga berharap semua perencanaan pembangunan di NTB agar berbasis kebencanaan, seperti bangunan tahan gempa dan pembangunan yang memperhatikan lokasi tepat atau tidak membangun di wilayah tanah rawan rekahan. Selain itu BPBD juga telah memiliki pemetaan zona rawan tsunami, sehingga dapat memberikan pemahaman mitigasi masyarakat setempat. (red)