KORANNTB.com – Pemerintah Provinsi NTB menaikan status penanganan Coronavirus COVID-19 dari status siaga darurat menjadi tanggap darurat, Senin, 13 April 2020.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas NTB, Lalu Gita Ariadi, mengatakan kenaikan status akibat jumlah pasien positif Corona di NTB lebih dari satu klaster.

“Kebijakan ini diambil karena terdapat lebih dari satu klaster kasus sampai penyebaran luas di masyarakat, sehingga Pemerintah Provinsi NTB akan fokus pada upaya penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19, baik dari aspek penanganan medis dan antisipasi penularan yang lebih luas maupun pada aspek penanganan dampak sosial ekonomi masyarakat,” katanya dalam keterangan pers.

Untuk diketahui, prinsip penanganan bencana non alam COVID-19 ada empat tahapan. Pertama adalah kesiapsiagaan, di mana kondisi tersebut belum ada kasus di NTB, sehingga dilakukan pencegahan.

Status kemudian naik menjadi siaga darurat ketika terkonfirmasi satu pasien positif klaster Jakarta di NTB.

Status siaga darurat naik menjadi tanggap darurat ketika terjadi lebih dari satu klaster di NTB. Selain klaster Jakarta di mana warga Aikmel yang baru tiba dari acara Muktamar Internasional di Jakarta, terdapat klaster lainnya. Pada tahap terakhir adalah tahap rehabilitasi, itu bilamana dalam 14 hari tidak ada laporan kasus baru.

Dalam catatan Pemprov NTB, sedikitnya ada tujuh klaster yang menjadi sumber Corona masuk NTB. Selain klaster Jakarta, ada juga klaster Gowa, klaster Bogor, klaster Sukabumi, klaster Bali, klaster luar negeri/kapal pesiar dan klaster transmisi lokal.

Klaster Bogor di mana beberapa warga yang berdomisili di Mataram mengikuti acara Sinode Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Bogor.

Klaster Gowa menjadi penyumbang angka positif Corona di NTB. Karena 750 warga NTB pergi ke Gowa di tengah pandemi untuk mengikuti Ijtima Ulama Dunia. Sementara klaster lainnya akibat pasien positif terpapar di wilayah tempat dia berada sebelum tiba di NTB.

“Dari seluruh klaster tersebut, klaster Gowa mencatat kasus positif paling banyak yakni sebanyak 10 kasus positif Covid-19. Jumlah ini berpotensi bertambah, karena dari 750 orang warga NTB yang pulang dari kegiatan di Gowa Sulawesi Selatan, sebanyak 369 orang telah dilakukan pemeriksaan melalui rapid test, dengan hasil 16,5% menunjukkan reaktif sedangkan 83,5% non reaktif,” katanya.

Selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang valid akan diuji sampel
SWAB pada laboratorium Biomedik RSUD Provinsi NTB dan Laboratorium pada Rumah Sakit Unram.

“Untuk menghindari penularan lebih luas, diminta kepada semua warga yang pulang dari daerah terjangkit, khususnya untuk warga yang pulang dari klaster Gowa, diminta tetap disiplin melaksanakan isolasi diri, terus meningkatkan kesadaran untuk menjaga keselamatan diri, keluarga
dan masyarakat luas,” ujarnya.

“Jujur memberikan informasi dan melaporkan diri kepada petugas medis. Taat kepada pemerintah adalah bagian dari ajaran agama, sehingga kami yakin warga yang baru pulang dari klaster Gowa akan membantu pemerintah dengan maksimal untuk keselamatan bersama,” katanya.

Sementara, untuk Senin, 13 April 2020 tidak terjadi kenaikan jumlah pasien positif di NTB. Jumlah pasien positif secara kumulatif tetap pada angka 37. Empat telah sembuh dan dua meninggal dunia. (red)