KORANNTB.com – Sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) NTB menggelar unjukrasa di Markas Polda NTB, Senin, 5 Juni 2023.

Massa menuntut dibebaskan 15 demonstan di Kabupaten Bima yang ditangkap polisi lantaran melakukan pemblokiran jalan.

Awalnya massa melakukan long march menuju Polda NTB. Sampai di gerbang timur terjadi ketegangan karena polisi meminta massa berorasi di gerbang barat agar tidak menutup akses orang masuk ke Polda NTB. Namun mahasiswa tetap bersikeras bertahan di gerbang timur.

Link Banner

“Massa aksi agar menyampaikan informasinya di pintu barat. Pintu barat, pintu barat. Ini pintu pelayanan keluar masuk, pintu barat,” kata seorang polisi menggunakan pengeras suara.

Seorang mahasiswa melalui pengeras suara juga meminta mahasiswa lainnya untuk tetap bertahan di pintu timur.

“Jangan sentuh massa aksi. Kita aksi damai, kita aksi damai. Massa aksi jangan terprovokasi satu komando, satu suara,” ujarnya.

Tiga kompi pleton Polresta Mataram kemudian mendesak mahasiswa untuk menuju gerbang barat. Sempat terjadi kericuhan saat meminta mahasiswa beranjak dari gerbang timur.

Kericuhan juga sempat terjadi saat mahasiswa menuju gerbang barat. Aksi saling dorong antara polisi dan mahasiswa juga terjadi. Namun berhasil mereda saat tiba di gerbang barat.

Mahasiswa menuntut 15 demonstran yang masih ditahan Polres Bima akibat memblokir jalan dibebaskan.

Pada selebaran tuntutan aksi, Koordinator Umum Aksi, Muhammad Farhan meminta Kapolda NTB dan Kapolres Bima membebaskan 15 anggota Front Perjuangan Rakyat Donggo Soromandi (FPR DS) dibebaskan setelah sebelumnya ditangkap polisi karena memblokir jalan.

Menuntut Kapolda NTB mencopot Kapolres Bima, menuntut Bupati dan DPRD Bima memperbaiki seluruh jalan rusak dan lainnya.

Sebelumnya pada Selasa, 30 Mei 2023 polisi melakukan pembubaran paksa demonstrasi dan aksi blokir jalan di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima. Ada 26 mahasiswa ditangkap.

Kemudian sebanyak 11 mahasiswa dibebaskan dan 15 lainnya ditetapkan tersangka dan ditahan. (red)