KORANNTB.com – Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Lombok mulai mengkhawatirkan. Kelompok ini sudah banyak membentuk banyak group di sosial media untuk berinteraksi dengan kelompok serupa.

Baru-baru ini viral group Facebook bernama “Genk gay Lombok tengah”. Group tersebut menjadi tempat komunitas gay berinteraksi dan berjanjian kencan. Saat media ini menelusuri group tersebut, banyak sekali komentar-komentar yang cukup meresahkan.

Sebagain besar berisi komentar tentang info lokasi keberadaan kelompok gay. Kemudian ada komentar mencari boty. Ada juga yang menawarkan bertemu atau dikenal dengan “kopi darat.”

GAMBAR: Beberapa group gay di Lombok dan Sumbawa

Tidak hanya Lombok Tengah, ada juga group gay di Mataram, Lombok Timur hingga Sumbawa.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Kota Mataram, Joko Jumadi mengatakan fenomena tersebut bukan hanya rumor semata, namun benar-benar ada di tengah masyarakat. Bahkan, melibatkan anak di bawah umur.

“Group ini tidak hanya itu saja, ada group Lombok Tengah, Lombok Timur, Mataram, Sumbawa, ternyata cukup masif pergerakan mereka. Di situ kita melihat ada komentar masih menyebutkan usia 18 lah, baru dewasa lah,” katanya, Minggu, 18 Januari 2026.

Joko mengatakan kasus-kasus LGBT di NTB nyambung dengan kasus-kasus yang pernah ditangani LPA. Sebut saja kasus dosen gay di Mataram yang mencari korban mahasiswa dengan modus zikir kelamin (zakar) agar pintar.

“Ini mengkhawatirkan sekali. Ini juga sebenarnya nyambung dengan beberapa case yang terjadi. Ada kasus zikir zakar menunjukkan keberadaan mereka cukup banyak,” ujarnya.

Joko mengatakan sangat khawatir jika kasus-kasus LGBT di NTB melibatkan anak-anak, meskipun memang benar ada kasus-kasus yang nyambung dengan anak-anak.

“Kita khawatirkan fenomena ini masuk di kalangan anak-anak dan ini terkonfirmasi beberapa kasus melibatkan anak,” kata dia.

Tanggung Jawab Bersama

Joko Jumadi mengatakan semua pihak memiliki tanggungjawab melindungi anak-anak dari praktik tersebut. Dia berharap peran masyarakat luas lebih dominan untuk mencegah kasus tersebut.

“Kita khawatirkan fenomena ini masuk di kalangan anak-anak dan ini terkonfirmasi beberapa kasus melibatkan anak,” katanya.

LPA Mataram berharap semua pihak mengambil peran dalam mengawasi anak mereka terjerumus dalam fenomena LGBT di Lombok.

“Kita semua seluruh komponen masyarakat harus melihat ini sebagai fenomena. Orang tua harus terlibat, edukasi dan proteksi anak, sekolah juga termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat. Ini fenomena bukan hanya isapan jempol. Bukan isu tapi memag ada,” ujarnya.