KORANNTB.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB), berpotensi mengalami hujan lebat disertai angin kencang pada Jumat (23/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026).

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.

“BMKG juga mengimbau masyarakat untuk secara aktif memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi dari BMKG berbagai kanal informasi, antara lain www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg,” terang BMKG dikutip dari laman resmi.

Masyarakat juga diharapkan agar menghindari area terbuka saat hujan disertai petir atau angin kencang, serta menjauhi pohon, bangunan, atau infrastruktur yang terlihat rapuh demi keamanan.

BMKG menjelaskan, dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia dalam sepekan ke depan. Salah satunya adalah El Nino–Southern Oscillation (ENSO) yang terpantau menguat pada fase negatif, mengindikasikan kondisi La Nina lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) cenderung positif.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Selain itu, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) secara spasial diperkirakan aktif melintasi beberapa wilayah Indonesia.

Aktivitas tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Di samping itu, gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah. Kombinasi MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator turut berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan sekitarnya.

BMKG juga memantau keberadaan Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina, utara Maluku Utara. Siklon tersebut diperkirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1.000 hPa, bergerak ke arah timur laut.

Menurut BMKG, Siklon Tropis Nokaen memengaruhi pembentukan pola angin, terutama di wilayah utara Indonesia bagian timur. Selain itu, terdapat Bibit Siklon Tropis 97S yang pergerakannya diprakirakan persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1.000 hPa.

Bibit siklon tersebut memengaruhi pola angin, termasuk pembentukan daerah konfluensi dan konvergensi yang memanjang di beberapa wilayah. Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik serta sepanjang daerah konfluensi dan konvergensi.
Lebih lanjut, BMKG menyebut adanya potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia.

Hal ini diindikasikan oleh perbedaan tekanan udara yang tinggi dari Gushi, disertai peningkatan kecepatan angin di Laut China Selatan. BMKG menilai kondisi tersebut dapat memperkuat masuknya monsun Asia yang bergerak lebih cepat dan mudah melintasi ekuator melalui Selat Karimata.