FIFA Dikritik Tak Konsisten, Media Asing Bandingkan Indonesia dan AS
KORANNTB.com – Media internasional BBC Sport menyoroti dugaan standar ganda FIFA dalam menerapkan aturan terhadap negara tuan rumah turnamen sepak bola dunia. Sorotan itu muncul setelah berbagai kontroversi yang terjadi selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat dibandingkan dengan keputusan FIFA mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023.
Dalam kasus Indonesia, pada 2023 lalu FIFA mencoret Indonesia sebagai tuan rumah setelah muncul penolakan terhadap kehadiran Timnas Israel. Saat itu FIFA menilai kondisi yang berkembang mengancam kelancaran penyelenggaraan turnamen sehingga status tuan rumah dicabut.
“Pada tahun 2023, FIFA mencabut hak Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 setelah Gubernur Bali, Wayan Koster, menolak mengizinkan tim Israel untuk tinggal. Kata-kata Infantino sebelumnya kini tampak hampa jika dikaitkan dengan Amerika Serikat,” tulis BBC.
Namun, sikap FIFA kini menuai kritik setelah berbagai persoalan akses dan keimigrasian terjadi di Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026.
Salah satu kasus yang paling banyak disorot adalah penolakan masuk terhadap wasit FIFA asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. Padahal yang bersangkutan telah ditunjuk secara resmi oleh FIFA untuk memimpin pertandingan dan telah mengantongi dokumen perjalanan yang diperlukan. Akibat keputusan otoritas imigrasi Amerika Serikat, Artan gagal bertugas pada turnamen tersebut.
Tak hanya itu, sejumlah ofisial dari Iran juga dilaporkan mengalami kendala visa sehingga tidak dapat menghadiri sebagian agenda Piala Dunia. Federasi Sepak Bola Iran bahkan secara terbuka mengkritik FIFA karena dinilai tidak mampu memastikan akses yang adil bagi seluruh peserta dan perwakilan negara yang terlibat dalam turnamen.
Kontroversi lainnya muncul ketika Ketua Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, dilaporkan tidak memperoleh visa untuk menghadiri kegiatan resmi FIFA selama berlangsungnya Piala Dunia. Kasus tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai komitmen FIFA dalam menjamin akses seluruh pemangku kepentingan sepak bola internasional.
Media asing menilai rangkaian peristiwa tersebut berbeda dengan perlakuan FIFA terhadap Indonesia. Jika pada 2023 FIFA mengambil langkah ekstrem dengan mencabut status tuan rumah karena persoalan akses terhadap satu peserta, maka pada kasus Amerika Serikat FIFA cenderung menyatakan bahwa urusan visa dan izin masuk merupakan kewenangan pemerintah negara tuan rumah yang berada di luar kontrol organisasi tersebut.
Perbedaan sikap inilah yang menjadi dasar munculnya tuduhan standar ganda. Para pengkritik menilai FIFA menggunakan tolok ukur yang berbeda ketika berhadapan dengan negara berkembang dibandingkan ketika menghadapi negara besar yang memiliki posisi strategis dalam penyelenggaraan sepak bola dunia.
