Tiga Gili Produksi 30 Ton Sampah per Hari, Pengolahan Diperkuat
KORANNTB.com — Timbulan sampah di kawasan wisata Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, Kabupaten Lombok Utara, dapat mencapai sekitar 30 ton per hari saat musim kunjungan wisatawan ramai. Volume tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam memastikan sampah tertangani tanpa menambah tekanan terhadap lingkungan pulau-pulau kecil tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Utara, Husnul Ahadi, menyebutkan Gili Trawangan menjadi penyumbang sampah terbesar dibandingkan dua pulau lainnya.
Berdasarkan data yang disampaikan, timbulan sampah di Gili Trawangan dapat mencapai 18 hingga 20 ton per hari ketika kondisi sangat ramai. Sementara itu, Gili Air menghasilkan sekitar tujuh ton per hari dan Gili Meno hingga lima ton per hari.
“Kalau sedang ramai, total sampah di tiga pulau bisa mencapai sekitar 30 ton per hari,” demikian gambaran volume sampah yang disampaikan Husnul.
Besarnya timbulan sampah tersebut menuntut sistem pengelolaan yang mampu menangani sampah sejak dari sumbernya, mulai dari pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, hingga penanganan residu yang tidak dapat diolah melalui proses tersebut.
Menurut Husnul, pengelolaan sampah di Trawangan diupayakan dapat diselesaikan di pulau itu sendiri karena telah tersedia fasilitas tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu penopang penanganan sampah di tengah tingginya aktivitas pariwisata.
Adapun di Gili Air, sekitar 60 persen sampah disebut telah ditangani melalui pendekatan pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang atau 3R di tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R). Sementara sekitar 40 persen lainnya diangkut menuju tempat pemrosesan akhir (TPA) di daratan.
Pola serupa dilaporkan berjalan di Gili Meno. Sekitar 60 persen sampah diupayakan diolah di pulau tersebut, sedangkan 40 persen sisanya dibawa ke daratan. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana membuat pengelolaan sampah di Gili Meno masih menghadapi kendala.
Pengangkutan sampah dari pulau-pulau tersebut dilakukan berdasarkan jadwal. Di Gili Air, pengangkutan disebut berjalan terjadwal, sedangkan di Gili Meno tidak dapat dilakukan setiap hari karena keterbatasan fasilitas pendukung.
Di sisi lain, penguatan infrastruktur pengolahan sampah juga tengah didorong melalui pembangunan tiga unit insinerator di kawasan Tiga Gili. Ketiga unit tersebut telah menjalani uji baku mutu, sementara proses perizinan dan pemenuhan persyaratan operasional masih berlangsung.
Tingginya timbulan sampah menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan pariwisata. Selain penyediaan fasilitas, pemilahan sampah dari sumbernya, pengurangan sampah sekali pakai, serta kepastian pengangkutan residu menjadi bagian penting untuk mencegah penumpukan sampah di kawasan wisata.
