Wabup Lombok Utara Hadiri Pujawali Jeliman Ireng
KORANNTB.com – Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, menghadiri secara langsung rangkaian ritual Pujawali yang dilaksanakan oleh Umat Budha di Dusun Jeliman Ireng, Desa Pemenang Timur(25/10).Hadir juga para tokoh masyarakat,tokoh agama serta undangan lainya.
Mengawali Sambutanya Wabup Kusmalahadi menyatakan kekagumannya terhadap suasana dan kedalaman filosofi Wet Jeliman Ireng yang begitu tenang dan suasana alam yang sangat sejuk.”Ternyata di sini dinginnya luar biasa, terkait dengan pengeloaan hutan adat kami sedang ikhtiarkan,”ujar Kusmalahadi.
Menanggapi desakan Romo Metawadi agar tanah negara dikelola oleh masyarakat adat untuk menjaga sumber mata air dan ekosistem Gawah (hutan suci), Wabup Kus menyebutkan bahwa pemerintah pusat telah berjanji untuk melepaskan status hutan negara seluas 1,4 juta hektar di seluruh Indonesia untuk dikelola masyarakat hukum adat.
“Menurut janji dari pemerintah pusat, hutan negara ini akan diserahkan kepada masyarakat hukum adat tahun 2028, ini sudah kita ikhtiarkan lama sekali, Dusun Jeliman Ireng sudah didaftarkan dan masuk dalam daftar tersebut,” tegasnya.
Komitmen ini menjadi jawaban langsung atas perjuangan 13 tahun masyarakat Jeliman Ireng yang akhirnya lolos verifikasi sebagai salah satu dari 13 Masyarakat Hukum Adat di Lombok Utara yang telah menerima surat pengakuan dari negara.
Wabup Kusmalahadi juga menyoroti peran vital masyarakat adat dalam menjaga kerukunan, dimana Lombok Utara secara konsisten mendapatkan apresiasi sebagai kabupaten paling toleran di Indonesia, di mana tiga agama besar hidup berdampingan dengan damai.
“Menjaga adat, menjaga hutan ini bukan pekerjaan gampang, kehadiran kami pemerintah hari ini adalah bentuk apresiasi nyata bahwa negara mengakui dan mendukung masyarakat,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut konkret dari permintaan tokoh adat untuk merehabilitasi hutan dan sumber mata air yang mulai hilang, Pemda akan mengusahakan penyediaan bibit pohon Beringin yang secara spiritual memiliki nilai penting dalam ritual masyarakat Jeliman Ireng.
Generasi Lombok Utara adalah pemuda, sehingga estafet kepemimpinan dan pelestarian budaya harus mulai diambil alih oleh anak muda.
“Ini sudah waktunya yang muda memimpin Lombok Utara, saya bangga disuguhkan sesuatu yang luar biasa,”katanya.
Kusmalahadi Syamsuri menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Lombok Utara akan terus memberikan dukungan penuh, baik moral maupun material, terhadap kegiatan keagamaan, budaya, dan adat.
“Selamat melaksanakan Pujawali, ini adalah bagian dari akar budaya tradisi kita yang harus dijaga, pemerintah daerah akan terus support, Mari kita pertahankan agar Lombok Utara benar-benar mensejahterakan masyarakatnya dari semua aspek,” pungkasnya.
Sementara itu Tokoh Adat dari masyarakat hukum adat Jeliman Neng, Romo Metawadi, menyampaikan apresiasi mendalam atas pengakuan pemerintah daerah terhadap eksistensi masyarakat adat di Dusun Jeliman Ireng.
“Setelah 13 tahun perjuangan, kami mengapresiasi pemerintah daerah, salah satu dari 13 masyarakat hukum adat yang lolos verifikasi dan identifikasi adalah kami di sini, tentunya menjadi identitas yang penting bagi kami,” ujar Romo Metawadi.
Romo Metawadi juga menginformasikan mengenai agenda mendesak pembangunan Sanggar Agung. Ia menyebut pembangunan ini bersifat emergensi dan menjadi panggilan spiritual bagi para pewaris adat, seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu, baik melalui materi maupun tenaga, demi kelancaran ritual dan sarana ibadah tersebut.
Filosofi hidup masyarakat Jeliman Neng yang disebut sebagai “Tau Gawah” dimana bahwa Gawah (hutan/alam) bukan sekadar objek, melainkan entitas hidup yang dianggap sebagai ibu dan pemberi kehidupan.
“Hutan itu sebagai ibu, sebagai tuhan yang memberi kehidupan, dari gawah-lah kita mendapatkan sumber pangan, air, dan udara,” jelasnya.
Kondisi alam yang mengkhawatirkan, dari lima sumber mata air yang dikelola melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKM), salah satunya telah hilang, tugas besar ke depan adalah menghidupkan kembali sumber mata air tersebut melalui reboisasi.
“Biayanya tidak terlalu mahal, yang dibutuhkan adalah ketulusan dan kemauan, agenda menanam kembali hutan kita rencananya akan dimulai pada bulan Maret mendatang,” tambahnya.
Romo Metawadi menyampaikan harapan agar Wakil Bupati tidak hanya menjabat sebagai administrator wilayah, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai eko-spiritual yang dianut masyarakat di Jeliman Ireng.
“Semoga energi leluhur kami ini ke depannya bisa menjadi jembatan bagi Pak Wabub, tidak hanya menjadi wakil bupati, tetapi bisa membaur dan memahami nilai spiritualitas kami,”tutupnya.
