KORANNTB.com – Indonesia dan Australia memiliki hubungan yang pasang surut. Baru-baru ini viral sebuah buku ramalan Nostradamus yang meramalkan Indonesia akan terlibat perang dengan Australia pada 2037.

Sumber buku tersebut menyebutkan penyebab perang adalah perebutan supremasi di Lautan Hindia.

Terlepas dari ramalan tersebut, hubungan Indonesia dan Australia memang sering pasang surut. Kadang menunjukkan hubungan harmonis dan kadang justru sebaliknya.

Saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, Australia terlibat membela Malaysia dengan mengirim militer terlibat pertempuran di Kalimantan.

Titik nadir hubungan kedua negara ini saat mempermasalahkan kemerdekaan Timor Timur. Bahkan Australia merencanakan serangan ke Jakarta, karena ketakutan dengan kapal selam TNI Angkatan Laut, saat mendaratkan pasukan di bumi Lorosae.

Ketegangan Indonesia dan Australia muncul lagi di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Intelijen Australia menyadap presiden SBY dan ibu negara, serta sejumlah pejabat negara.

Buntut penyadapan tersebut, Indonesia bereaksi keras dengan memanggil pulang Duta Besar Indonesia di Australia. Bahkan kerjasama intelijen dan militer dengan Australia dihentikan mendadak.

Tidak hanya itu ketegangan Indonesia dan Australia muncul saat Australia protes perlakuan kejam terhadap sapi-sapi yang dikirim ke Indonesia. Pihak Australia menilai Indonesia melakukan proses penyembelihan tidak sesuai standar.

Imbas dari itu, Australia hentikan ekspor sapi ke Indonesia.

Rasa kesal dengan Indonesia kembali muncul pada era Presiden Joko Widodo. Australia protes eksekusi mati terhadap dua warga mereka yang tertangkap polisi Indonesia karena membawa ‘barang haram’.

Australia mengancam akan menarik duta besar mereka, memboikot pariwisata Bali, dan menghentikan dana pinjaman ke Indonesia. Alih-alih menuruti, Indonesia mengirimkan dua jenazah warga Australia ke kampung halamannya usai dieksekusi mati.

Terlepas dari pasang surut hubungan kedua negara, Indonesia dan Australia masih saling membutuhkan.

Pada 13 November 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ditandantangani kesepakatan antara Indonesia dan Australia. Isi kesepakatan tersebut, Australia tidak akan ikut campur masalah Papua. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama Kesepakatan Lombok.

Australia juga bergantung rasa aman ke Indonesia, untuk sama-sama mencegah aksi terorisme. Kerjasama intelijen Australia dan Indonesia di bidang penanganan terorisme adalah hubungan terbaik di dunia.

Indonesia juga bergantung pada wisatawan Australia yang mendominasi berwisata di Bali. Hubungan perdagangan kedua negara juga berjalan baik.

Yang paling bersejarah adalah peristiwa Black Armada pada 24 September 1945. Saat itu Australia memboikot besar-besaran kapal milik Belanda yang berlabuh di pelabuhan Australia.

Sebanyak 400 kapal milik Belanda yang akan membawa senjata untuk berperang di Indonesia, tidak diizinkan berlayar oleh Australia, sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia.

Para pekerja di Pelabuhan Sidney juga menggelar unjuk rasa di depan kantor diplomatik Belanda. Mereka memasang spanduk bertuliskan “hands off Indonesia” atau lepaskan tanganmu dari Indonesia.

Australia menjadi pendukung utama kemerdekaan Indonesia dan menjadi negara pertama yang mengirimkan misi diplomatik untuk bertemu Presiden Soekarno. (red)