KORANNTB.com – Suhu udara di sejumlah wilayah Lombok terasa semakin panas dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTB mengungkapkan, kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau, fenomena El Nino, serta posisi matahari yang turut meningkatkan paparan panas.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nuga Putrantijo, menjelaskan bahwa musim kemarau menjadi salah satu faktor utama meningkatnya suhu udara di wilayah tersebut.

Selain musim kemarau, fenomena El Nino turut memperparah kondisi kering di NTB. Fenomena iklim tersebut membuat masyarakat perlu mewaspadai peningkatan suhu dan kondisi cuaca yang lebih kering.

“Ini adalah fenomena El Nino yang harus kita waspadai, kita lebih kering jadinya,” ujarnya.

Faktor lainnya adalah posisi matahari yang bergerak menuju wilayah selatan khatulistiwa. Mengingat NTB berada di selatan garis khatulistiwa, pergerakan tersebut ikut memengaruhi intensitas panas yang dirasakan masyarakat.

“Kalau matahari mendekati kita ya lebih panas jadinya,” ujarnya.

Meski demikian, Nuga menyebut keberadaan uap air di awan masih membantu mengurangi paparan langsung radiasi matahari. Kondisi atmosfer tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat panas belum mencapai tingkat yang lebih ekstrem.

“Nah kita masih tertolong dengan masih adanya uap air di awan,” katanya.

Namun, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi kemungkinan suhu yang terasa semakin panas seiring perkembangan kondisi cuaca.

“Panasnya akan lebih panas nanti,” ujarnya.

Suhu Siang di Dataran Rendah Capai 33 Derajat Celsius

BMKG mencatat, kawasan dataran rendah dan pesisir cenderung merasakan suhu lebih panas pada siang hari. Sejumlah wilayah yang mengalami kondisi tersebut antara lain Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah.

Suhu udara siang hari di kawasan dataran rendah berkisar antara 31 hingga 33 derajat Celsius. Tingkat kelembapan yang cukup tinggi juga dapat membuat udara terasa semakin gerah.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat agar membatasi aktivitas di bawah paparan matahari langsung, terutama pada siang hari. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas.

“Kami menghimbau untuk menghindari paparan langsung sinar matahari di waktu siang hari,” katanya.

Selain mengurangi aktivitas luar ruangan saat matahari terik, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air untuk menjaga kebutuhan cairan tubuh. Penggunaan penyejuk ruangan juga dapat menjadi pilihan ketika suhu meningkat.

Masyarakat diharapkan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan mengantisipasi dampak panas, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.