Biogas, Solusi Jitu Atasi Krisis Minyak

Oleh: Habibah Auni

Mahasiswa S1 Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada

KORANNTB.com – Pasca kemenangannya atas perang dunia ke 2, Amerika Serikat (AS) berlari sekencang mungkin untuk mencapai garis finish dan menjadi pemenang. Walaupun lawan mendahului, negeri adidaya ini terus mencoba berbagai cara untuk menjadi yang terdepan. Melempar paku di sepanjang jalan, misalnya. Tidak muluk-muluk apa yang diinginkannya adalah membuat saingannya lumpuh total. Kalau bisa sampai titik ekstrem, di mana lawannya itu memohon, tunduk, hingga mengekor kepada AS.

Link Banner

Ihwal ini serupa sekali dengan yang diperbuatnya kepada Timur-Tengah (Timteng). Sekumpulan negara padang pasir ini dahulu kala dikenal kaya akan minyak. Negara yang berdikari dan bahkan memimpin perekonomian dan peradaban dunia. Namun, kedudukan Timteng digulingkan oleh sekelompok Barat yang cemburu akan kegemilangan mereka.

Kepada mereka, AS kerap kali menjatuhkan sanksi ekonomi yang begitu berat. Ia tahu, negeri padang pasar ini sangat menggantungkan penjualannya ke sektor minyak. Apalagi, sejak dulu hingga sekarang, kelompok Barat ini menjadi pembeli minyak terbanyak. Lantas mengetahui ini, negara adidaya beserta sekutunya memutuskan untuk mepersulit perdagangan minyak Timteng

Akibatnya seperti yang kita lihat sekarang, keuangan Timteng runtuh. Sebab mereka sangat kesulitan untuk menjual minyak. Harga minyak global mengalami penurunan. Lalu tiba-tiba naik. Oh ya, gonjang-ganjingnya tarif minyak ini sesuai mood AS terhadap Timteng.
Siapapun pihak yang terlibat, baik itu AS maupun Timteng, mungkin kurang menaruh simpatinya kepada negara lain yang tidak terlibat dalam perkara ini. Jika mereka tahu, negara-negara lain termasuk Indonesia, turut diuji kesabarannya atas ketidakpastian harga minyak global.

Selain itu, jujur, Indonesia apes sekali. Cadangan minyak Indonesia kian mengalami penurunan tiap tahunnya. Menurut data yang diambil Zalizar dkk. (2013), cadangan minyak Indonesia pada tahun 2005 sebesar 8,63 miliar baler, akan tetapi pada tahun 2010 hanya 7,76 miliar baler. Sisa minyak yang dimiliki Indonesia, tentunya tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga 250 juta orang yang mencapai 1,6 juta barel per hari.

Berkaca dari krisis dirinya akan minyak, Tanah air kemudian banyak memborong minyak dari luar. Berdasarkan data wordtopexports.com, nilai impor minyak Indonesia pada tahun 2017 mencapai nilai Rp117,2 triliun. Berkat nilai ini, Indonesia akhirnya menempati posisi ketiga sebagai importir minyak terbanyak.

Ini menjadi pil pahit bagi Indonesia. Kendati potensi minyak Indonesia banyak terutama di Sumatera dan Kalimantan, namun negeri ini mengalami keterhambatan dalam mengeksplorasi minyak. Kalau begini terus, perekonomian Indonesia akan terus tergerus. Hutang semakin menumpuk. Opsi terakhirnya ya, ujung-ujungnya meminta investasi dari negara lain. Agaknya ini malah merugikan Indonesia, atau sampai titik terparahnya menjadi bentuk penjajahan.

Kita juga tidak melupakan bahwa jumlah minyak yang semakin sedikit ini, sewaktu-waktu akan tumpah. Entah bisa karena saat pengiriman kapal terkena bencana, sendi kapal yang roboh, atau bahkan penyebab lainnya. Musabab-musabab ini dapat mengakibatkan laut tercemar sehingga menjadi ekosistem laut menjadi tidak bersih. Ikan-ikan pun bakal mati berguguran satu-satu,
Contohnya minyak pada proyek Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), yang mengalami kebocoran. Sebagai akibatnya, lautan yang membentang dari Karawang hingga Bekasi, Jawa Barat, tercemar. Ikan dan udang tercatat banyak yang mati.

Pertanyaannya, apakah krisis minyak ini tidak ada solusinya sama sekali? Jawabannya, tentu saja ada. Maka darinya, dunia mulai mengenal dan mengejar energi terbarukan, atau yang spesifiknya adalah biogas.

Merujuk pada karya Suyitno dkk. dalam buku yang berjudul Teknologi Biogas: Pembuatan, Operasional, dan Pemanfaatan (2010), biogas adalah gas yang dihasilkan dari limbah organik yang mengalami proses fermentasi oleh bakteri dalam biodigester yang anaerob (tanpa oksigen).

Biogas sendiri memiliki komposisi dominan Metana (CH4) yang nilainya sebesar 55-75%.5%. Oleh karena itu, biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah, sebab metana termasuk gas rumah kaca yang sangat berbahaya dalam pemanasan global.

Selain metana, biogas kebanyakan menggunakan limbah kotoran sapi sebagai bahan bakar. Jumlah kotoran sapi ini proporsional dengan populasi sapi yang tersebar di nusantara. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2018, jumlah untuk sapi potong Indonesia mencapai 17,05 juta ekor. Sedangkan untuk populasi sapi perah, ada sebanyak 550.141 ekor. Potensi pengelolaan semua kotoran sapi ini bisa setara konsumsi 14,8 juta liter minyak tanah per-hari.

Terlebih lagi, menurut Direktorat Jenderal PPHP-Departemen Pertanian (2006), 1 m³ biogas setara dengan minyak solar 0,52 liter, maka 35,2 juta reaktor biogas itu memproduksi 15,91 miliar liter biogas per hari. Jika disetahunkan, jumlah ini setara dengan 5.809,5 miliar liter per tahun. Tentu jumlah ini jauh lebih murah bila dibandingkan dengan jumlah LPG nasional per tahun yang hanya mencapai 3 juta meter liter. Hal ini menunjukkan bahwa limbah kotoran sapi bisa memberikan surplus sebesar 99% jika diekspor ke negara lain.

Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia beralih tangan menggunakan biogas. Kita patut bersyukur bahwa negeri ini sudah memiliki 70 ribu rumah tangga yang sudah memanfaatkan program biogas dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Potensi dan sumber daya domestik ini, nantinya dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembelian minyak global.

Di samping itu, Indonesia bisa perlahan-lahan memanfaatkan investasi lokal untuk mengembangkan teknologi biogas. Alhasil, ketergantungan akan investor asing juga akan berkurang. Pendapatan Indonesia dalam sektor energi pun akan bertambah terus. Manfaat yang sangat luar biasa dari biogas ini, bahkan bisa mengurangi krisis iklim yang selama ini ditakuti dari limbah maupun penggunaan minyak.

Link Banner
Link Banner