Kontroversi Fir’aun Akhenaten dan Pemindahan Ibu Kota
KORANNTB.com — Dalam sejarah panjang Mesir Kuno, nama Akhenaten tercatat sebagai salah satu penguasa paling kontroversial pada Dinasti ke-18. Ia memerintah sekitar 1353–1336 SM dan dikenal karena kebijakan keagamaan radikal serta keputusan memindahkan ibu kota kerajaan.
Akhenaten lahir dengan nama Amenhotep IV, putra Amenhotep III. Pada awal pemerintahannya, Mesir menganut sistem politeisme dengan dewa Amun sebagai salah satu yang paling dominan, terutama di kota Thebes yang menjadi pusat kekuasaan keagamaan.
Sekitar tahun kelima masa pemerintahannya, Amenhotep IV mengganti namanya menjadi Akhenaten. Ia mengangkat Aten, dewa matahari yang digambarkan sebagai cakram dengan sinar berbentuk tangan, sebagai pusat penyembahan. Sejumlah kuil dewa-dewa lain ditutup dan pengaruh pendeta Amun dilemahkan.
Kebijakan tersebut memicu perubahan besar dalam struktur sosial dan politik. Sejarawan menilai, langkah itu bukan sekadar reformasi spiritual, tetapi juga upaya mengurangi kekuatan elite keagamaan yang selama ini memiliki pengaruh ekonomi dan politik yang kuat.
Sebagai bagian dari kebijakan barunya, Akhenaten memindahkan pusat pemerintahan dari Thebes ke kota baru bernama Akhetaten, yang kini dikenal sebagai Amarna. Kota itu dibangun khusus untuk menjadi pusat penyembahan Aten dan simbol dimulainya era baru.
Pemindahan ibu kota ini menjadi salah satu keputusan paling signifikan pada masanya. Selain aspek religius, langkah tersebut dinilai sebagai strategi politik untuk memutus pengaruh lama serta membangun basis kekuasaan baru yang sepenuhnya loyal kepada raja.
Di bidang seni, periode Amarna menampilkan gaya berbeda dari tradisi sebelumnya. Relief dan patung menggambarkan keluarga kerajaan secara lebih naturalis. Ratu Nefertiti, istri utama Akhenaten, juga tampil menonjol dalam berbagai artefak dan diyakini berperan penting dalam kebijakan keagamaan saat itu.
Namun setelah sekitar 17 tahun berkuasa, Akhenaten wafat. Penerusnya, termasuk Tutankhamun, mengembalikan sistem kepercayaan lama dan memulihkan penyembahan terhadap dewa-dewa tradisional. Ibu kota kembali dipindahkan, dan banyak jejak Akhenaten dihapus dari catatan resmi.
Hingga kini, para arkeolog dan sejarawan masih memperdebatkan warisan Akhenaten. Sebagian menilai ia sebagai pelopor monoteisme dalam sejarah kuno, sementara yang lain melihatnya sebagai penguasa yang kebijakannya melemahkan stabilitas kerajaan.
Reformasi dan pemindahan ibu kota yang ia lakukan menjadikan masa pemerintahannya sebagai salah satu periode paling unik dalam peradaban Mesir Kuno.
