KORANNTB.com – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat makin melemah. Per 24 Mei 2026 tercatat 1 dollar setara 17.698 rupiah. Rupiah terus mengalami tekanan dari hari ke hari.

Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya memberikan pernyataan yang cukup kontroversial saat dollar terus menekan rupiah. Pernyataan Prabowo itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.

“Jadi saya yakin sekarang, ada yang selalu entah apa saya nggak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos. Rupiah begini, dolar begini—orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok,” tegas Prabowo.

Bahkan Prabowo menyebut dampak kenaikan dollar hanya bagi warga Indonesia yang sering ke luar negeri.

Meski Menteri Keuangan menyebut pernyatan tersebut hanya dalam konteks menghibur, namun pernyataan itu sudah kadung menjadi kontroversial.

Bagaimana dampak nyata ke masyarakat?

Anjloknya rupiah akibat dollar tidak semata seperti pernyataan Prabowo. Masyarakat akan ikut terkena dampak meskipun tidak sedang ke luar negeri.

Harga produk-produk impor akan ikut naik menyesuaikan dengan nilai tukar rupiah saat ini. Misalnya produk impor seperti ponsel, sparepart kendaraan, obat-obat tertentu, gandung, kedelai hingga pakan ternak akan ikut naik menyesuaikan dengan nilai tukar saat ini. Akibatnya beban kenaikan harga tersebut terasa hingga ke masyarakat desa.

Hal yang sama juga dengan BBM. Karena pasokan dari luar negeri maka akan ikut naik. Jika BBM naik, biaya transportasi ikut naik. Jika seseorang pedagang sayur ke pasar menggunakan kendaraan, dengan harga BBM naik maka otomatis menyesuaikan dengan kenaikan harga sayur yang dibawa. Tentu hal tersebut berdampak ke masyarakat.

Jika barang-barang naik, hukum ekonominya daya beli masyarakat akan turun. Uang Rp100 ribu jadi terasa lebih sedikit dari biasanya.

Begitu pula dengan perusahaan yang memiliki pinjaman dalam bentuk dollar, maka akan membayar cicilan dengan harga yang menyesuaikan dengan nilai tukar rupiah. Otomatis menjadi beban perusahaan dan dapat berisiko terhadap pengurangan tenaga kerja hingga menyebabkan meningkatnya pengangguran.

Begitu pula terhadap investor asing yang melihat rupiah terus melemah berpotensi akan menarik dana dari pasar saham dan obligasi Indonesia hingga menyebabkan pasar keuangan bergejolak, ekonomi melambat dan perusahaan akan hati-hati ekspansi di Indonesia di kemudian hari.

Sehingga dampak rupiah melemah sangat terasa di masyarakat, tidak hanya terhadap masyarakat yang sering ke luar negeri.