Makam Dende Kalijaga di Mataram, Sebuah Jejak Sejarah

KORANNTB.com – Batu nisan tua terawat itu berdiri tepat di samping pohon beringin. Tepatnya di kompleks Pantai Gading, Lingkar Selatan, Kota Mataram.

Siur angin sesekali berhembus di pori-pori para peziarah yang tengah khusyuk berdoa di makam tua itu.

Makam tersebut adalah makam Dende Kalijaga. Posisi makam cukup besar. Sementara di sampingnya, deretan makam lainnya berada.

Konon, Dende Kalijaga merupakan istri dari Anak Agung Karangasem yang melebarkan kekuasaan di Lombok.

Mahendra Irawan seorang pengelola Pantai Mapak Indah yang berada di samping makam, menuturkan dalam catatan sejarah, Dende Kalijaga merelakan dirinya dipersunting Anak Agung Karangasem agar ekspansi Karangasem tidak meluas hingga ke Lombok Timur.

“Saat Kerajaan Karangasem menyerang Lombok dan tiba di Mataram, Dende Kalijaga yang mencoba berdiplomasi agar Karangasem tidak mengekspansi ke Lombok Timur,” katanya belum lama ini.

Jalan masuk makam Dende Kalijaga/koranntbcom

Strategi diplomasi melalui pernikahan tersebut untuk mencegah terjadinya peperangan dan perebutan kekuasaan. Dende Kalijaga rela menjadi permaisuri raja.

Dende Kalijaga konon berasal dari sebuah kerajaan dari Desa Kalijaga Lombok Timur. Makam di tengah Pantai Gading dan Pantai Mapak Indah diyakini tempat ia beristirahat dalam damai.

Makam Dende Kalijaga/koranntbcom

Lokasi makam dikelilingi tembok dengan dua gerbang. Gerbang selatan berada di area Pantai Gading dan gerbang utara berada di perbatasan Pantai Mapak Indah.

Praktik Klenik

Makam tua tersebut sering dikunjungi masyarakat, baik yang datang berziarah maupun meminta jabatan dan meminta petunjuk dari lilitan utang.

Mahendra Irawan menuturkan kerapkali melihat orang datang berdoa hingga bertapa di makam tersebut.

Mahendra Irawan atau Haji Awan mengatakan, sejak tahun 1990-an makam tersebut selalu didatangi peziarah. Selain untuk berdoa, juga merupakan penghormatan atas pengorbanan Dende Kalijaga pada masyarakat Lombok.

“Bukan hanya masyarakat biasa, pejabat juga sering ke sini minta kewibawaan, minta jabatan,” katanya.

Dia berharap masyarakat mengunjungi makam hanya untuk berziarah tanpa meminta-minta jabatan atau kekayaan. Dia juga berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan makam dan menjadikannya cagar budaya. (red)

Link Banner
Link Banner