Ketika Rusia dan Indonesia Bersatu Mengusir Belanda dari Papua

KORANNTB.com – Pada 19 Desember 1961 Presiden Soekarno mengumumkan melaksanakan Operasi Trikora. Operasi tersebut untuk membebaskan Irian Barat (sekarang Papua) dari Belanda.

Saat itu Indonesia telah merdeka dari Belanda. Namun Papua dalam penguasaan Belanda.

Upaya pembebasan Papua bukan langsung melalui pertempuran, namun dilakukan melalui negosiasi demi negosiasi. Bahkan hingga ke PBB, upaya negoisasi mengalami kebuntuan.

Sang Proklamator yang bersikeras agar Papua kembali dalam pangkuan Indonesia kemudian mengutus Jenderal A.H Nasution mengunjungi Moskow Uni Soviet (kini Rusia). Soekarno meminta bantuan Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev agar membantu Indonesia merebut Papua dari penjajahan Belanda.

Uni Soviet dan Soekarno memiliki hubungan yang istimewa. Dengan senang hati Uni Soviet membantu Indonesia. Terlebih lagi Khrushchev mendukung gerakan anti kolonialisme di Asia dan Afrika.

Sebagai bantuan, Moskow mengirim satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, delapan kapal patroli anti kapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal mariam dan kapal torpedo.

Moskow juga mengirimkan kendaraan lapis baja, amphibi, helikopter dan pesawat pengebom. Itu dikirim mulai sejak 1950 hingga masuk era Orde Lama.

Khusus untuk pembebasan Irian Barat, Moskow juga mengirim 3 ribu tentara, enam kapal selam dan tiga pesawat pengebom strategis. Sementara Indonesia menerjunkan 13 ribu tentara,  7 ribu pasukan terjun payung, 4.500 marinir dan 139 pesawat.

Konflik Bersenjata

Belanda mengirim sebuah kapal induk bernama Hr. Ms. Karel Doorman ke Irian Barat. Selain itu kekuatan militer Belanda terus bertambah untuk bersiap konfrontasi dengan Indonesia.

Sementara Indonesia melakukan operasi yang sangat rahasia dengan menyusupkan sukarelawan ke Irian Barat.

TNI AD dengan bantuan TNI AL melakukan penyusupan secara sukarela menuju pantai Irian Barat. TNI AD juga meminta bantuan TNI AU mengirim dua pesawat Hercules yang membantu membawa pasukan dengan jumlah besar.

Sisi lain, Polri menyiapkan pasukan Brimob yang tersusun dalam beberapa Resimen Tim Pertempuran (RTP). RTP Brimob ini digelar di Kepulauan Ambon untuk bersiap-siap menyerbu ke Irian Barat.

Sebuah tim disebut Tim Menpor berhasil tembus ke pedalaman Irian Barat dengan terlebih dahulu mendarat di Fakfak, dan melakukan sabotase objek vital milik Belanda di pedalaman.

Pertempuran Laut Aru

Pertempuran tersebut terjadi saat dua kapal perusak (destroyer) milik Belanda menyerang RI Matjan Tutul (650), RI Matjan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) di laut Arafura Maluku.

Dalam pertempuran paling berdarah itu, Komodor Yos Sudarso gugur. Sebelum gugur ia menyampaikan pesan paling terkenal saat itu dan dijadikan motivasi para pejuang. “Kobarkan semangat pertempuran.”

Saat tiga kapal tersebut bergerak, sebuah pesawat milik Belanda menjatuhkan flare yang menggantung di parasut, kemudian kapal tiba-tiba menjadi terang. Tiga kapal Belanda yang berukuran lebih besar ternyata telah menunggu.

Kapal Belanda mengeluarkan tembakan peringatan yang jatuh tepat di samping KRI Harimau. Kolonel Sudomo balas menembak namun gagal mengenai sasaran. Kemudian Komodor Yos Sudarso memerintahkan tiga kapal tersebut kembali.

Saat kapal-kapal Indonesia berbelok, kapal Belanda mengira kapal tersebut akan bermanuver menyerang mereka.

Tembakan pertama meleset, dan tembakan kedua tepat mengenai KRI Matjan Tutul. Saat detik-detik tembakan telak menghantam kapal, Yos Sudarso berteriak “Kobaran semangat pertempuran” dan gugur di laut Aru.

Operasi Terjun Payung

Operasi infiltrasi udara ini dipimpin Mayjen Soeharto. Sekitar 81 penerjun payung diturunkan oleh pesawat Hercules.

Operasi ini memiliki sandi-sandi panggilan, kode memanggil teman dan titik kumpul usai terjun.

Operasi sebelumnya menggunakan pesawat berukuran kecil yang hanya mampu mengangkut 18 orang. Namun itu selalu ketahuan oleh pesawat pemburu Neptune milik Belanda. Sehingga digunakan Hercules. Saat Neptune Belanda menyadari Hercules telah pulang mengantar penerjun, namun dengan cepat pesawat Hercules naik ke ketinggian yang tidak dapat diikuti pesawat milik Belanda tersebut.

TNI Angkatan Laut kemudian menyiapkan Operasi Jayawijaya. Operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer di Indonesia. Operasi melibatkan 100 kapal perang dan 16.000 prajurit.

Ketakutan AS

Amerika Serikat yang awalnya menolak membantu Indonesia membebaskan Irian Barat, justru ketakutan melihat pembebasan Irian Barat.

AS khawatir pembebasan Irian Barat menjadi awal perang dunia ketiga antara Uni Soviet dan Amerika. Terlebih lagi saat itu masih dalam masa perang dingin.

Selain itu, Amerika Serikat juga khawatir jika Indonesia terus dibantu Uni Soviet, maka Indonesia akan mendukung Uni Soviet yang saat itu posisi Indonesia berada pada negara non-blok.

Sementara, Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua atas desakan Amerika mengubah pendirian untuk mendukung Papua bergabung dengan Indonesia.

Pada 15 Agustus 1962 dilakukan Persetujuan New York antara Indonesia dengan Belanda. Poin perundingan tersebut pada substansinya akan melakukan referendum agar masyarakat Papua memilih masuk Indonesia atau menjadi negara sendiri. Referendum itu dikenal dengan nama Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang dilakukan pada1969.

Pepera disaksikan oleh dua utusan PBB. Namun mereka pulang setelah 200 dari 1054 suara untuk integrasi. Sementara hasil Pepera menentukan Irian Barat kembali ke tangan Indonesia.

Saat itu Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan beberapa pengamat independen mencurigai hasil Pepera. Namun Amerika Serikat yang tidak ingin Indonesia bergabung dengan Uni Soviet mendukung Papua menjadi bagian NKRI. (red)