KORANNTB.com – Masuk di tahun politik, masyarakat diharapkan untuk selalu menjaga persatuan dan mewaspadai provokasi  dan politisasi isu SARA yang dapat digunakan untuk memecah belah bangsa.

Hal tersebut, disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud dalam sebuah kesempatan di stasiun TV Nasional. Menurutnya, Umat Islam sebagai penduduk mayoritas harus mampu menjadi perekat dari segala perbedaan yang akan terjadi di tahun politik mendatang.

“Jelang tahun politik ini suasananya akan panas, maka kita harus memprogramkan bagaimana menjadi perekat dalam perbedaan pilihan serta perbedaan keinginan. Agar perbedaan pilihan dan keinginan itu masih ada di dalam circle ukhwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Jangan sampai kita pecah dan keluar dari ukhuwah itu,” kata Kyai Marsudi.

Lebih lanjut dia mengingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh pernyataan-pernyataan yang memanas-manasi dan banyak beredar  serta memicu polemik.

Sebagaimana diketahui, salah satu statement Ketum PDIP Megawati Soekarno putri tentang pengajian mengundang reaksi beragam dari sebagian masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengajak masyarakat untuk dapat mengedepankan prasangka baik (husnudzon) ucapan itu. Menurutnya, Megawati tidak melarang ibu-ibu mengaji.

“Maksudnya beliau bukan melarang atau tidak senang dengan kegiatan pengajian ibu-ibu tersebut, tetapi sebaiknya dalam mengatur waktunya harus lebih proporsional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zainut menilai Megawati hanya mengingatkan ibu-ibu untuk seimbang dalam menjalankan tugas dalam membimbing anak.

“Jadi inti pesan yang beliau sampaikan adalah terkait dengan pengaturan waktu, bukan pada larangan mengikuti pengajian,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Zainut menjelaskan jika mengikuti pengajian adalah hal yang baik. Namun, kewajiban lain ibu-ibu untuk mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan mengerjakan tugas dan kewajiban lainnya tak boleh ketinggalan.

“Apa yang disampaikan oleh Ibu Megawati harusnya dipandang sebagai sebuah masukan yang konstruktif, dan bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi terhadap praktik pengajian yang selama ini berlangsung,” katanya.

Senada, Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDIP Nasyirul Falah Amru menjelaskan bahwa Megawati tak pernah melarang ibu-ibu ikut pengajian. Dia menegaskan bahwa Megawati, hanya meminta agar para ibu bisa seimbang dalam mengaji dan mengurus anak.

“Sebab mengaji dan mengurus anak itu sama-sama untuk kepentingan dunia-akhirat, jadi mbok ya seimbang sehingga stunting dan sebagainya itu bisa dihindari, itu pesan sebenarnya dari Ibu Mega,” ujar pria yang akrab disapa Gus Falah.

Megawati, kata Gus Falah, sudah memohon maaf sebelum mengutarakan pernyataan demikian agar jangan sampai salah ditanggapi maksudnya, karena Megawati juga seorang muslimah, sehingga tidak mungkin melarang pengajian. (red)