MUDA Hadiri Tradisi Rebo Bontong, Inisiasi Pariwisata Berbasis Budaya di Kota Mataram

KORANNTB.com – Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Mataram, H Lalu Makmur Said dan H Badruttamam Ahda (MUDA) menghadiri tradisi Rebo Bontong, Rabu (14/10) di Kota Mataram. Kehadiran pasangan Calon nomor urut 3 ini disambut antusias masyarakat setempat.

Rebo Bontong merupakan tradisi mandi bersama yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Sasak di Lombok sebagai upaya menyucikan diri dari segala hal buruk sekaligus menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Rebo Bontong berarti Rabu terakhir bulan kedua pada penanggalan Hijriah yakni Safar.

Tradisi unik yang sudah berumur ratusan tahun ini diyakini masyarakat dapat menyucikan tubuh dan dapat menghilangkan sakit selama satu tahun ke depan. Saat Rebo Bontong tiba, masyarakat Suku Sasak akan datang berbondong-bondong ke sungai atau pesisir pantai terdekat dan mandi beramai-ramai.

Link Banner

Tradisi yang digelar sekaligus untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW juga dilaksanakan di sejumlah tempat di Kota Mataram.

Calon Walikota Mataram, H Lalu Makmur Said mengatakan, tradisi dan budaya seperti Rebo Bontong perlu terus dilestarikan dan dijaga. Terlebih di era globalisasi, di mana tradisi dan budaya lokal kerap tersaingi dengan budaya luar yang lebih populer.

“Ini menjadi bagian dari tradisi kita yang sudah lama. Yang mencirikan kita disebut Mataram yang Maju, Religius, dan Berbudaya. Kita tidak pernah meninggalkan akar-akar religiusitas dan kebudayaan itu, apalagi menggantinya dengan kebudayaan luar yang lebih populer,” ujar Makmur.

Menurutnya, jika dikelola dengan baik, tradisi Rebo Bontong ke depan bisa menjadi batu mulia bagi citra Kota Mataram. Tradisi yang menarik ini bisa menjadi salah satu ikon pariwisata berbasis budaya di Kota Mataram ke depan.

“Selain maknanya yang cukup filosofis di masyarakat kita, ini juga bisa jadi modal untuk pariwisata berbasis kebudayaan,” ujar mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram tersebut.

Calon Wakil Walikota Mataram, H Badruttamam Ahda yang maju sebagai penyuara kelompok muda menyebut tradisi Rebo Bontong tidak semata-mata dimaknai sebagai kegaitan mandi bersama di sungai untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad di hari Rabu terakhir bulan Safar. Namun di dalamnya terdapat makna-makna lain seperti simbolisme penyucian diri dan kegiatan komunal-sosial yang belakangan banyak ditinggalkan masyarakat karena beralih ke budaya virtual.

“Di Kota Mataram tradisi ini masih banyak dilakukan di Dasang Agung dan beberapa daerah lain dengan mandi bersama di Sungai Jangkuk. Dengan majunya teknologi sekarang, harusnya pemanfaatannya sejalan dengan upaya kita mempertahankan budaya. Kita suarakan budaya kita ini ke luar, karena tidak ada yang punya selain kita,” kata pemuda yang akrab disapa Ustaz Kairo tersebut.

Menurut Ahda, tradisi Rebo Bontong juga membawa nilai lokal yang menjadi ciri khas muslim sasak di Lombok. Khususnya di Kota Mataram yang mengusung semangat kemajuan dengan tetap mempertahankan religiusitas dan kebudayaan.

“Selain menghidupkan kebudayaan, ini juga menjadi ladang ibadah bagi kita umat muslim sekalian, insyaallah jika ini dipertahankan terus, Mataram yang Maju, Religius, Berbudaya dan Siaga akan semakin kuat,” kata Ahda. (red)