Warga Kecewa Kelompok Cek Bocek Klaim Sepihak Kuburan Dodo
KORANNTB.com – Kelompok yang mengatasnamakan diri Cek Bocek mengklaim memiliki wilayah adat di Sumbawa yang perlu mendapat pengakuan secara legal hukum.
Namun klaim tersebut justru menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Karena sebagian besar masyarakat baru mengetahui adanya kelompok tersebut, bahkan secara historis tidak mengenal adanya nama tersebut.
Baru-baru ini kelompok Cek Bocek mengklaim tanah yang meliputi Kuburan Dodo juga masuk dalam wilayah adat mereka.
Hal tersebut mendapatkan reaksi penolakan dari masyarakat. Salah satunya datang dari M. Yasin HD yang merupakan Ketua Komunitas Lar Leba Dodo Lampui.
Yasin sapaannya mengatakan cukup terkejut atas klaim tersebut. Padahal pihak yang mengklaim bukan berasal dari wilayah setempat.
“Saya kaget luar biasa saat salah satu anggota komunitas Kami dari generasi muda yang menyampaikan bahwa saudara kita dari Lawin mengaklaim bahwa kuburan di daerah Dodo adalah milik balo tolo (nenek moyang-red) mereka,” katanya sebagaimana disadur dari KanalAspirasi.com.
Yasin mengatakan tidak mengikuti perkembangan berita di media sosial, namun begitu mengetahui adanya klaim tersebut sangat membuat dia terkejut.
“Saya sudah lanjut usia dan tidak mengikuti berita di media massa, apalagi bermain medsos. Jadi tidak terlalu mengikuti perkembangan terakhir,” katanya.
Beberapa tahun terakhir ini Kelompok Cek Bocek mengklaim memiliki kawasan lahan ada seluas 20 ribu hektare, termasuk di dalamnya terdapat lokasi kuburan-kuburan tua yang oleh masyarakat menganggap kuburan leluhur mereka. Olah klaim tersebut masyarakat cukup terusik.
Yasin menilai klaim sepihak Cek Bocek sudah cukup mulai hati masyarakat karena secara historis mereka tidak mengenal kelompok tersebut dan mengetahui adanya kelompok tersebut baru-baru ini.
“Sudah menjadi pemahaman umum di masyarakat Sumbawa bagian selatan bahwa nenek moyang dari masyarakat daerah Leba, Dodo dan Lempui basal dari daerah Dodo. Kuburan yang Ada di sana (daerah Dodo) adalah kuburan nenek moyang kami bukan kuburan dari orang Lawin,” ujarnya.
Dia menegaskan kuburan leluhur kelompok tersebut bukan berasal dari wilayah yang telah diklaim tersebut.
“Kuburan nenek moyang mereka berada di daerah Selesek,” kata dia.
Dia juga mengaku heran kelompok tersebut mengklaim punya bahasa sendiri. Padahal sejak jaman dulu tidak pernah ada kelompok tersebut.
“Terus terang sejak jaman kakek saya tidak pernah mendengar nama itu. Mungkin baru baru ini saja dibuat. Apalagi bahasa tersendiri, tidak Ada itu. Minta mereka bicara di depan saya kalau tidak yakin. Semua orang Labangkar, Lawin dan Leba bahasanya sama. Paling beda pengucapan satu dua kata saja,” katanya.
Sebagai tindak lanjut terhadap sikapnya, Yasin akan meminta AMMAN Mineral untuk memberikan mereka akses melakukan ziarah kubur ke makam leluhur mereka.
Akademisi Bantah Cek Bocek
Jauh sebelum Yasin membantah keberadaan Cek Bocek, akademisi telah lebih dulu membantah dari sisi historikal masyarakat setempat.
Akademisi Muhammad Yamin mengatakan kelompok itu muncul tiba-tiba saat adanya eksplorasi pertambangan di wilayah Dodo Rinti.
“Memang Cek Bocek itu tiba-tiba muncul dia saat tambang di Dodo Rinti mulai dibuka, mulai eksplorasi. Dan memang secara historis enggak pernah ada,” ujarnya.
Yamin mengatakan klaim Cek Bocek memiliki historis sendiri tentang keberadaan mereka sangat mengada-ada dan bertentangan dengan sejarah masyarakat di Sumbawa sendiri.
“Dari jaman kerajaan dulu kalau saya baca dia punya proposal mengada-ada tentang sejarah yang mereka buat sendiri. Tidak semua masyarakat yang dulunya tinggal di Dodo Rinti merasa diri cek Bocek,” terangnya.
Dia menyebut Cek Bocek justru didirikan belum lama ini dan diprovokasi oleh pihak luar untuk mengejar kompensasi dari perusahaan tambang.
“Ada segelintir orang dan orang luar yang provokasi dengan iming-iming hibah akan diberikan kompensasi besar oleh perusahaan tambang. Main triliun bukan miliar,” ujarnya.
Yamin meragukan klaim keberadaan Cek Bocek karena tidak memiliki sejumlah komponen layaknya masyarakat adat lainnya. Bahkan Yamin turut meneliti histori kepindahan masyarakat dari Dodo Rinti.
“Secara struktural adat gak pernah ada. Saya pernah di sana. Saya teliti alur kepindahan masyarakat dari Dodo ke Lawin, Ropang. Memang belum ada,” jelasnya.

