KORANNTB.com — Ketidakadilan, penindasan, dan perjuangan untuk memperoleh keadilan menjadi tema yang berulang dalam sejarah umat manusia. Sejumlah tokoh dunia meninggalkan kata bijak yang hingga kini masih sering dikutip karena menggambarkan keberanian untuk bersikap, melawan ketidakadilan, dan membela mereka yang tertindas.

Berikut tujuh kutipan dari tokoh dunia yang memiliki pesan kuat tentang ketidakadilan dan keberanian untuk mengambil sikap.

  1. Che Guevara

“If you tremble with indignation at every injustice, then you are a comrade of mine.”

“Jika darahmu bergetar karena kemarahan melihat setiap ketidakadilan, maka kau adalah kawanku.”

Kutipan yang secara luas dikaitkan dengan Ernesto “Che” Guevara ini menggambarkan bahwa seseorang yang benar-benar peduli terhadap keadilan tidak akan bersikap acuh ketika melihat ketidakadilan. Kemarahan yang muncul bukan sekadar emosi, tetapi menjadi tanda adanya kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Kutipan ini banyak beredar dan dikaitkan dengan Che, meski sumber primer yang secara tegas menunjukkan kapan dan di mana kalimat tersebut diucapkan sulit ditemukan.

  1. Frederick Douglass

“Power concedes nothing without a demand. It never did and it never will.”

“Kekuasaan tidak akan memberikan apa pun tanpa tuntutan. Tidak pernah dan tidak akan pernah.”

Frederick Douglass, tokoh penting dalam perjuangan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat, menyampaikan gagasan tersebut dalam pidatonya pada 1857. National Park Service mencatat kutipan itu berasal dari pidato “West India Emancipation” di Canandaigua, New York.

Maknanya sangat tegas: perubahan tidak selalu datang dengan sendirinya dari pihak yang memiliki kekuasaan. Ketika sebuah kelompok mengalami ketidakadilan, diperlukan keberanian untuk menuntut perubahan. Bagi Douglass, batas penindasan sering kali ditentukan oleh seberapa lama orang yang ditindas bersedia menerimanya.

  1. Martin Luther King Jr.

“Injustice anywhere is a threat to justice everywhere.”

“Ketidakadilan di mana pun adalah ancaman terhadap keadilan di mana pun.”

Kalimat ini berasal dari “Letter from Birmingham Jail” yang ditulis Martin Luther King Jr. pada 16 April 1963 ketika ia dipenjara karena perjuangannya melawan segregasi rasial.

Pesannya adalah bahwa ketidakadilan tidak boleh dianggap sebagai masalah yang hanya dialami orang lain. Ketika ketidakadilan dibiarkan terjadi di satu tempat, prinsip keadilan secara keseluruhan ikut terancam. Karena itu, seseorang tidak harus menjadi korban langsung untuk memiliki alasan memperjuangkan keadilan.

  1. Desmond Tutu

“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor.”

“Jika kamu bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, kamu telah memilih pihak penindas.”

Kutipan ini dikaitkan dengan Uskup Agung Desmond Tutu dan terdokumentasi dalam buku “Unexpected News” karya Robert McAfee Brown yang diterbitkan pada 1984.

Maknanya adalah bahwa dalam situasi ketika satu pihak menindas pihak lain, sikap diam atau mengaku netral tidak selalu berarti tidak memihak. Ketika seseorang mengetahui adanya ketidakadilan tetapi memilih tidak melakukan apa pun, ketidakadilan tersebut dapat terus berlangsung tanpa perlawanan.

  1. Martin Luther King Jr.

“Freedom is never voluntarily given by the oppressor; it must be demanded by the oppressed.”

“Kebebasan tidak pernah diberikan secara sukarela oleh penindas; kebebasan harus dituntut oleh mereka yang tertindas.”

Pernyataan ini juga terdapat dalam “Letter from Birmingham Jail”. King menolak gagasan bahwa kelompok yang mengalami ketidakadilan cukup menunggu hingga perubahan datang dengan sendirinya.

Maknanya, perjuangan memperoleh hak dan kebebasan membutuhkan keberanian untuk menyuarakan tuntutan. Bagi King, perubahan sosial tidak cukup hanya diharapkan; masyarakat harus mengambil sikap dan memperjuangkannya.

  1. Martin Luther King Jr.

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.”

“Ukuran utama seseorang bukanlah di mana ia berdiri ketika berada dalam kenyamanan dan kemudahan, melainkan di mana ia berdiri ketika menghadapi tantangan dan kontroversi.”

Kutipan ini berasal dari buku King, “Strength to Love”, yang terbit pada 1963.

Maknanya, karakter seseorang justru terlihat ketika ia berada dalam situasi sulit. Mudah untuk berbicara tentang prinsip ketika tidak ada risiko yang harus ditanggung. Namun, keberanian moral terlihat ketika seseorang tetap mempertahankan prinsipnya saat menghadapi tekanan, ancaman, atau ketidakpopuleran.

  1. Martin Luther King Jr.

“We must accept finite disappointment, but never lose infinite hope.”

“Kita harus menerima kekecewaan yang terbatas, tetapi jangan pernah kehilangan harapan yang tak terbatas.”

Pesan tersebut menggambarkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak selalu menghasilkan kemenangan dengan cepat. Kegagalan, kekalahan, dan kekecewaan merupakan bagian dari perjuangan.

Maknanya, seseorang boleh kecewa terhadap hasil perjuangan, tetapi tidak boleh membiarkan kekecewaan tersebut mematikan harapan untuk mencapai keadilan. Bagi King, harapan menjadi kekuatan untuk terus bergerak ketika perubahan belum terwujud.

Tujuh kutipan tersebut berasal dari tokoh-tokoh dengan latar belakang dan perjuangan yang berbeda. Namun, ada satu benang merah: ketidakadilan bukan sesuatu yang semestinya diterima begitu saja.

Che Guevara berbicara tentang kemarahan moral terhadap ketidakadilan. Frederick Douglass menekankan pentingnya tuntutan terhadap kekuasaan. Desmond Tutu mengingatkan bahaya berlindung di balik sikap netral. Sementara Martin Luther King Jr. menekankan bahwa keadilan membutuhkan keberanian, sikap, dan harapan.

Di tengah berbagai persoalan ketidakadilan, kata-kata tersebut tetap relevan sebagai pengingat bahwa keberanian untuk bersikap sering kali menjadi langkah pertama menuju perubahan.