KORANNTB.com – Direktur Utama Bank NTB Syariah Nazaruddin menargetkan operasional mobile banking atau M-Banking Bank NTB Syariah dapat kembali normal pada Maret 2026. Ia menyebut izin operasional layanan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Bank Indonesia.

Nazaruddin menjelaskan, serangan siber yang terjadi pada Maret 2025 menyebabkan aplikasi M-Banking Bank NTB Syariah belum dapat beroperasi normal hingga saat ini. Karena itu, ia meminta nasabah turut mendoakan agar layanan tersebut segera kembali berjalan.

“Yang namanya sistem ya. Saya kan masuknya bulan Agustus 2025. Tapi sebelumnya kan teman-teman sudah tau. Ini sudah setahun lo. Berdoa aja mudah-mudahan dalam waktu gak terlalu lama lagi, kita sudah bisa live kembali,” ujar Nazaruddin, Kamis (26/2/2026).

Ia memastikan izin operasional M-Banking Bank NTB Syariah telah diterbitkan oleh Bank Indonesia sehingga layanan tersebut dapat kembali live.

“Yang namanya orang bangun sistem gak jalan dulu. Mungkin tunggulah sampai 2-3 minggu lagi, insya Allah sudah bisa jalan,” ujarnya.

Tambah Divisi IT

Nazaruddin mengatakan, untuk memperkuat sistem teknologi informasi (IT), manajemen Bank NTB Syariah menambah dua divisi di bidang IT guna mengantisipasi potensi serangan siber seperti yang terjadi pada Maret 2025. Menurutnya, penambahan tersebut secara otomatis akan memperkuat operasional sistem bank.

“Ya dulunya IT kan cuma 1 divisi. Sekarang 3 divisi, kan sebelumnya hanya ada operasional. Sekarang ada operasional, ada pengembangan, ada security,” ujarnya.

Selain itu, jajaran tim di bidang IT juga diperkuat dengan penambahan satu formasi senior executive vice president (SEVP) bidang IT.

“Jadi formasi ini levelnya di bawah direksi. Jadi SEVP IT inilah yang nanti membawahi 3 divisi IT di Bank NTB. Jadi kita berikhtiar lah ya, berikhtiar mudah-mudahan ke depan akan lebih baik,” katanya.

Menurut Nazaruddin, penambahan divisi dan formasi di bidang IT tersebut merupakan langkah antisipatif terhadap potensi peretasan atau serangan siber ke sistem perbankan. Ia menegaskan, perbankan modern sangat bergantung pada kekuatan sistem perangkat lunak.

“Karena yang namanya bank era sekarang, bukan lagi di gedung-gedung. Bank sekarang kan kekuatannya di sistem. Kalau sistem gak kuat, ya gak gimana. Doakan mungkin bisa normal 2 minggu lagi,” tandasnya.

Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksaan Keuangan RI Perwakilan NTB atas kinerja Bank NTB Syariah periode 2023 hingga semester II 2025, ditemukan transaksi tidak sah (fraudulent transactions) pada bank daerah tersebut.

Nilai transaksi tidak sah itu mencapai Rp 180 miliar. Dugaan sementara, hal tersebut berkaitan dengan serangan siber pada perangkat lunak Bank NTB yang terjadi pada 24 Maret 2025.