KORANNTB.com – Kantor berita Iran, Tasnim News Agency melaporkan bahwa Majelis Pakar telah memperkenalkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran melalui pemungutan suara mayoritas dalam sidang luar biasa.

Keputusan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Majelis Pakar yang juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pemimpin Iran sebelumnya, Ali Khamenei. Dalam pernyataan itu juga disebutkan gugurnya sejumlah komandan militer dan anggota angkatan bersenjata, serta mengecam serangan yang disebut sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel.

Majelis Pakar menyatakan bahwa meskipun berada dalam kondisi perang dan menghadapi ancaman terhadap lembaga negara, proses pemilihan pemimpin baru tetap dilaksanakan untuk memastikan tidak terjadi kekosongan kepemimpinan. Para anggota Majelis Pakar dari berbagai wilayah Iran dikumpulkan untuk menggelar sidang luar biasa sesuai dengan ketentuan konstitusi negara tersebut.

Setelah melalui pembahasan dan pertimbangan, sidang memutuskan mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran. Keputusan itu disebut diambil melalui dukungan mayoritas anggota Majelis Pakar.

Dalam pernyataannya, Majelis Pakar juga mengajak seluruh rakyat Iran, termasuk ulama, akademisi, dan masyarakat luas, untuk menjaga persatuan nasional serta memberikan dukungan kepada kepemimpinan yang baru.

Biografi singkat Mojtaba Khamenei juga dipublikasikan oleh Tasnim. Ia merupakan putra kedua Ali Khamenei dan lahir pada 1969 di kota Mashhad. Mojtaba menempuh pendidikan agama di sekolah Ayatollah Mojtahid Tehrani dan kemudian melanjutkan pendidikan seminari di Qom, salah satu pusat pendidikan keagamaan utama di Iran.

Dalam perjalanan pendidikannya, Mojtaba mengikuti berbagai kelas tingkat lanjut di bidang fikih dan prinsip-prinsip hukum Islam di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka Iran. Ia juga mengikuti pelajaran dari ayahnya serta sejumlah ulama besar lain di Qom.

Selain belajar, Mojtaba juga aktif mengajar di beberapa lembaga pendidikan agama. Ia pernah mengajar berbagai mata pelajaran dasar seminari di Teheran sebelum kemudian melanjutkan aktivitas pengajarannya di Qom. Sejumlah kelas fikih dan usul fikih yang ia ajarkan diikuti ratusan mahasiswa seminari.

Dalam kegiatan akademiknya, Mojtaba dikenal menekankan diskusi ilmiah, penalaran hukum Islam, serta pengembangan metode analisis dalam kajian fikih dan prinsip-prinsip hukum Islam. Beberapa catatan kuliah dan kajian ilmiahnya disebut telah disiapkan untuk diterbitkan oleh para muridnya.

Di luar aktivitas akademik, ia juga terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial dan pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan lembaga pendidikan agama di Iran. Beberapa pusat kajian dan sekolah fikih disebut didirikan atau didukung untuk memperkuat pengembangan ilmu keislaman di lingkungan seminari.

Selain memiliki jaringan luas dengan kalangan ulama dan akademisi, Mojtaba juga disebut memiliki hubungan dekat dengan sejumlah tokoh penting di Iran. Ia diketahui pernah menjalin komunikasi dengan sejumlah komandan militer dan tokoh yang terkait dengan kelompok yang disebut sebagai “poros perlawanan”.

Menurut laporan tersebut, pengalaman Mojtaba dalam bidang pendidikan agama, jaringan dengan berbagai tokoh, serta keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan menjadi bagian dari latar belakang yang disebut mendukung perannya dalam kepemimpinan baru di Iran.