KORANNTB.com – Gelombang panas ekstrem yang menyelimuti sebagian besar wilayah Eropa dalam sepekan terakhir berubah menjadi bencana kesehatan dan lingkungan. Suhu udara yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius memicu lonjakan angka kematian, kebakaran hutan, gangguan transportasi, hingga ancaman terhadap pasokan listrik dan pertanian di sejumlah negara.

Prancis menjadi negara yang terdampak paling parah. Badan kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih sejak 24 Juni 2026 yang diduga berkaitan dengan cuaca panas ekstrem. Sekitar 85 persen korban merupakan warga lanjut usia berusia di atas 65 tahun, sementara sebagian besar meninggal di rumah masing-masing. Pejabat kesehatan memperingatkan jumlah korban masih dapat bertambah karena proses pendataan masih berlangsung.

Selain Prancis, gelombang panas juga melanda Jerman, Italia, Polandia, Republik Ceko, Denmark, Slovakia, hingga Inggris. Beberapa negara bahkan mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. Di Jerman suhu mencapai sekitar 41,5 derajat Celsius, Republik Ceko mencatat 40,6 derajat Celsius, sedangkan Denmark memecahkan rekor nasional dengan suhu 36,6 derajat Celsius.

Kondisi tersebut menyebabkan berbagai gangguan terhadap aktivitas masyarakat. Layanan kereta api dan transportasi umum mengalami pembatasan karena rel memuai akibat panas. Di beberapa wilayah terjadi pemadaman listrik, sementara debit sungai-sungai besar di Eropa turun drastis sehingga mengganggu pembangkit listrik tenaga nuklir dan distribusi air untuk sektor pertanian. Di Italia, permukaan Sungai Po turun hingga memungkinkan air laut masuk sejauh sekitar 18 kilometer ke daratan.

Cuaca ekstrem juga memicu meningkatnya risiko kebakaran hutan. Sejumlah kawasan hutan di Jerman, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya dilaporkan mengalami kebakaran yang sulit dikendalikan karena suhu tinggi, angin kencang, dan kondisi vegetasi yang sangat kering.

Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan oleh penduduk setempat. Otoritas di berbagai negara mengeluarkan peringatan kesehatan, meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air, serta menghindari paparan sinar matahari langsung terutama pada siang hari. Rumah sakit juga mengalami peningkatan pasien akibat dehidrasi, sengatan panas, dan gangguan pernapasan.

Sejumlah ilmuwan iklim menyatakan gelombang panas kali ini merupakan salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah modern Eropa. Analisis kelompok ilmuwan internasional World Weather Attribution menyebut peristiwa seperti ini nyaris mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Pemanasan global telah membuat kejadian panas ekstrem menjadi jauh lebih sering dan lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu.

Organisasi kesehatan internasional juga mengingatkan bahwa Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat, sekitar dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kematian akibat panas, memperbesar ancaman terhadap ketahanan pangan, serta menambah tekanan terhadap sistem kesehatan dan infrastruktur publik.

Meski suhu di sebagian wilayah Eropa Barat mulai menunjukkan penurunan, para ahli memperingatkan gelombang panas kini bergerak ke kawasan Eropa Tengah dan Balkan. Otoritas setempat masih mempertahankan status siaga karena dampak kesehatan dan kerusakan infrastruktur diperkirakan akan terus dirasakan dalam beberapa hari ke depan.