Gempa M7,7 Berdampak di Bima, Empat Rumah Rusak dan Satu Warga Luka Ringan
KORANNTB.com – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), berdampak hingga wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Berdasarkan laporan pemutakhiran BPBD Provinsi NTB, sebanyak empat unit rumah mengalami kerusakan di Kota Bima dan Kabupaten Bima. Selain itu, satu warga di Kabupaten Bima dilaporkan mengalami luka ringan akibat kejadian tersebut.
Di Kota Bima, dua unit rumah terdampak gempa. Satu rumah mengalami rusak sedang di Kelurahan Rabangodu Selatan, Kecamatan Raba, sementara satu lainnya mengalami rusak ringan di Kelurahan Panggi.
Kerusakan juga terjadi pada Gudang Bulog. Bagian dinding bangunan mengalami kerusakan hingga menyebabkan sejumlah karung beras di dalam gudang berjatuhan.
Sementara di Masjid Hotel Mutmainnah, kerusakan terjadi pada bagian plafon.
Di Kabupaten Bima, dua rumah warga mengalami rusak ringan. Masing-masing berada di Desa Rabakodo, Kecamatan Woha, dan Desa Lambu, Kecamatan Lambu.
Selain kerusakan bangunan, seorang warga Desa Sangiang, Kecamatan Wera, bernama Fajar, 60 tahun, mengalami luka ringan berupa lecet pada bagian kaki.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bima, A. Faruk, mengatakan kondisi masyarakat di Kota Bima secara umum masih aman dan terkendali. Meski demikian, proses pendataan dan verifikasi lapangan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak lain yang belum teridentifikasi.
“Alhamdulillah, kondisi masyarakat saat ini aman dan terkendali. Namun, kami tetap melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan untuk memastikan seluruh dampak gempa dapat teridentifikasi,” kata Faruk.
Gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.58 WITA. Berdasarkan analisis BMKG, gempa memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
Episenter gempa berada pada koordinat 8,41° Lintang Selatan dan 121,39° Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Berdasarkan analisis mekanisme sumber, gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Pasca kejadian, BPBD Provinsi NTB berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bima, BPBD Kota Bima, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bima dan Kota Bima juga diterjunkan untuk melakukan asesmen dampak gempa.
Selain itu, personel TNI/Polri, Tim TGC Desa Sangiang, serta aparatur kelurahan dan kecamatan turut terlibat dalam penanganan dan pemantauan kondisi masyarakat.
Faruk mengimbau masyarakat tidak panik dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, menghindari bangunan yang retak atau mengalami kerusakan, serta tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan,” ujarnya.
BPBD juga menyiapkan kebutuhan dukungan logistik bagi warga terdampak, terutama makanan siap saji, air mineral, selimut, terpal, matras, dan perlengkapan kebutuhan keluarga.
Sementara itu, peringatan dini tsunami yang sebelumnya dikeluarkan akibat gempa di wilayah NTT dan berdampak hingga NTB telah dinyatakan berakhir oleh BMKG.
Meski demikian, hingga pukul 11.00 WIB, BMKG masih memantau aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.
BPBD meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah serta segera melaporkan apabila menemukan kerusakan bangunan atau dampak lain akibat gempa.
