Aliran Dana Pemulihan Desa Adat Sade: Sapo Rp2 Miliar, Sejumlah Bantuan Masih Berupa Janji
KORANNTB.com — Pemulihan Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pascakebakaran terus berjalan dengan dukungan berbagai pihak. Salah satu kontribusi yang turut mendorong proses tersebut datang dari PT Sapo Development Indonesia melalui bantuan senilai Rp2 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan kembali rumah warga dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Bantuan tersebut menjadi salah satu kontribusi terbesar yang tercatat dalam daftar donasi yang telah terealisasi.
Owner SAPO Development, Alvaro Paribanez menyampaikan, pihaknya ingin hadir sebagai pilar utama yang menghidupkan kembali denyut pembangunan di tengah puing bekas kebakaran.
Bagi Alvaro, bantuan Rp2 miliar tersebut menjadi wujud dukungan terhadap upaya pemulihan Sade, terutama melalui pengadaan material, pembayaran tenaga kerja, serta rencana penyediaan listrik dan air bersih.
“Pemanfaatan bantuan ini diharapkan dapat mendukung proses pembangunan sekaligus membantu warga kembali menjalani aktivitas sehari-hari,” jelas pria yang juga Investor ITDC ini.
Selain itu, Alvaro juga berharap supaya program “Back To Sade Project” yang telah digagasnya dapat membuat Sade kembali pulih sehingga dapat menjadi tujuan wisatawan domestik dan mancanegara.
Berdasarkan keterangan tokoh Dusun Adat Sade, Thalib alias Amaq Aris. Kehadiran dukungan ini tidak hanya membantu pengadaan material bangunan dan pembayaran upah tukang harian, tetapi juga diarahkan untuk mendukung penyediaan jaringan listrik dan air bersih bagi warga terdampak.
Dari total bantuan Rp2 miliar tersebut, separuh dialokasikan untuk kebutuhan pembangunan rumah, sedangkan separuh lainnya ditempatkan pada rekening satgas melalui Bank NTB Syariah untuk mendukung pemulihan infrastruktur dasar. Alokasi ini menjadikan bantuan Sapo sebagai bagian dari upaya bersama untuk menghidupkan kembali aktivitas masyarakat dan mempercepat pemulihan kawasan adat yang terdampak kebakaran.
Dukungan Sapo hadir bersama kontribusi sejumlah pihak lain. Raffi Ahmad tercatat memberikan Rp1 miliar untuk pembelian tiang pertama rumah warga, PT Otsuka menyalurkan Rp500 juta melalui Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade, sementara Chili House memberikan Rp182 juta untuk pembangunan berugak Bale Sangkep.
Berbagai bantuan tersebut mencerminkan kepedulian banyak pihak terhadap masyarakat Sade yang tengah berupaya membangun kembali rumah dan fasilitas yang terdampak.
Kontribusi Sapo dalam Angka
Berdasarkan data yang disampaikan para narasumber, bantuan Rp2 miliar dari Sapo merupakan salah satu komponen penting dalam pendanaan pemulihan Sade.
Namun, persentase kontribusinya terhadap keseluruhan donasi perlu dihitung berdasarkan periode dan jenis dana yang sama.
Ketua Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade, Lalu Moh. Faozal, menyampaikan bahwa saldo rekening penampungan satgas tercatat sebesar Rp1.913.566.194.
Angka tersebut meningkat Rp765.011.000 dari saldo sebelumnya, yakni Rp1.148.555.194. Sejumlah donasi besar yang disebut masuk pada periode tersebut antara lain Rp500 juta dari Kawula Madani dan Rp265 juta dari Widiyanti Putri.
Sementara itu, Kepala Desa Rembitan, Lalu Minaksa, memperkirakan dana yang berada dalam pengelolaan masyarakat mencapai Rp2,5 miliar. Angka ini belum mencakup bantuan material maupun pembangunan fasilitas yang diberikan secara langsung.
Kedua angka tersebut memiliki cakupan berbeda. Saldo rekening satgas merupakan posisi saldo pada waktu pelaporan, sedangkan Rp2,5 miliar merupakan perkiraan dana yang dikelola masyarakat. Karena itu, keduanya tidak dapat langsung dijumlahkan atau digunakan sebagai penyebut untuk menghitung persentase kontribusi Sapo tanpa rekonsiliasi data.
Untuk sementara, nilai bantuan Sapo sebesar Rp2 miliar dapat dipastikan berdasarkan keterangan narasumber. Adapun persentase kontribusinya terhadap keseluruhan donasi yang telah terealisasi masih memerlukan data gabungan dari rekening dusun, rekening satgas, serta bantuan langsung dan non-tunai.
Rp1 Miliar untuk Material dan Upah Pembangunan Rumah
Amaq Aris menjelaskan, bantuan Sapo dibagi menjadi dua alokasi dengan nilai masing-masing Rp1 miliar. Alokasi pertama disalurkan ke rekening Dusun Sade untuk membeli material bangunan, termasuk bambu dan kayu, serta membayar upah tukang harian yang mengerjakan pembangunan rumah warga.
Alokasi kedua ditempatkan pada rekening Bank NTB Syariah yang dikelola Satgas. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung pemasangan jaringan listrik dan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.
“Donasi Sapo dipakai untuk bangun rumah. Donasi dari Raffi Ahmad diperuntukkan membeli tiang pertama. Kalau konsumsi, alhamdulillah sudah lebih dari cukup,” kata Aris.
Menurut Aris, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan PLN dan PDAM terkait dukungan pemasangan listrik serta penyediaan air bersih. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan tidak berhenti pada pembangunan bangunan, tetapi juga mencakup kebutuhan dasar warga.
Meski demikian, nilai yang telah dialokasikan perlu dibedakan dari nilai yang sudah dibelanjakan. Data mengenai realisasi pengadaan material, pembayaran upah, pemasangan listrik, dan penyediaan air bersih masih diperlukan untuk mengukur secara terperinci sejauh mana bantuan Rp2 miliar tersebut telah diwujudkan dalam pembangunan di lapangan.
Pemulihan Sade: 49 Rumah Mulai Dibangun
Di tengah dukungan berbagai donatur, proses pembangunan kembali Desa Adat Sade terus berjalan. Kepala Desa Rembitan, Lalu Minaksa, menyebut sebanyak 49 unit rumah telah mulai dibangun, sementara sekitar 10 bangunan lainnya belum memulai pembangunan. Dua berugak sekenem telah selesai dikerjakan, sedangkan pembangunan masjid dan museum masih berlangsung.
Amaq Aris memperkirakan kebutuhan pembangunan satu unit rumah mencapai Rp115 juta. Dengan perkiraan tersebut, kebutuhan untuk 49 rumah mencapai sekitar Rp5,635 miliar apabila seluruh unit membutuhkan biaya yang sama.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Dusun Adat Sade, Sanah Ardinata, menyebut progres pembangunan rumah berada pada kisaran 40–50 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan masih membutuhkan dukungan lanjutan. Bantuan Sapo menjadi bagian dari pendanaan pembangunan, tetapi belum dapat dianggap menutup seluruh kebutuhan tanpa perhitungan menyeluruh atas biaya yang telah dikeluarkan dan sisa pekerjaan.
Peta Bantuan: Dana Terealisasi dan Komitmen yang Menunggu
Selain Sapo, sejumlah pihak turut memberikan bantuan untuk pemulihan Desa Adat Sade. Berdasarkan keterangan Amaq Aris, berikut rincian nilai dan status bantuan yang disebutkan.
1. PT Sapo Development Indonesia — Rp2 miliar. Bantuan dibagi menjadi Rp1 miliar ke rekening Dusun Sade dan Rp1 miliar ke rekening Satgas melalui Bank NTB Syariah.
2. Raffi Ahmad — Rp1 miliar. Bantuan diperuntukkan bagi pembelian tiang pertama rumah warga.
3. PT Otsuka — Rp500 juta. Dana disalurkan melalui Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade.
4. Chili House — Rp182 juta. Bantuan diperuntukkan bagi pembangunan berugak Bale Sangkep.
5. Kementerian Pariwisata — lebih dari Rp800 juta. Bantuan telah diterima secara simbolis. Kementerian juga menyalurkan 40 alat tenun.
6. DPR RI Sari Yuliati — Rp200 juta. Berdasarkan keterangan narasumber, bantuan belum diterima.
7. Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri — sekitar Rp60 juta. Bantuan belum terealisasi menurut keterangan narasumber.
8. Bank BTN — Rp75 juta. Sebanyak 75 kepala keluarga dibuatkan rekening dengan saldo masing-masing Rp1 juta.
9. Bank Syariah Indonesia (BSI) — komitmen Rp1 miliar. Dari komitmen tersebut, Rp153 juta disebut telah terealisasi untuk pembangunan gapura.
10. MIM Foundation — nilai belum diketahui. Bantuan direncanakan untuk pembangunan masjid dan museum melalui kolaborasi dengan PT Otsuka.
11. Dharma Lautan Utama — nilai belum diketahui. Pihak tersebut direncanakan membantu pembangunan toilet, tetapi bantuan belum terealisasi menurut keterangan narasumber.
12. Menteri Kebudayaan Fadli Zon — Rp30 miliar. Menurut Amaq Aris, bantuan tersebut masih berupa janji dan belum ada dana yang disalurkan.
Daftar tersebut merupakan kompilasi berdasarkan keterangan narasumber, bukan laporan keuangan yang telah diaudit. Status setiap bantuan perlu dikonfirmasi kepada pemberi bantuan dan pengelola dana, terutama untuk membedakan komitmen, penyaluran, penerimaan, dan penggunaan dana.
Nilai bantuan yang belum terealisasi atau belum diketahui tidak dapat dimasukkan sebagai dana yang telah diterima. Bantuan dalam bentuk barang juga perlu dicatat secara terpisah agar tidak terjadi penghitungan ganda.
Transparansi Menjadi Kunci Penyelesaian Pemulihan
Ketua Satgas Pemulihan dan Penataan Desa Adat Sade, Lalu Moh. Faozal, menegaskan bahwa pengelolaan donasi disesuaikan dengan peruntukan yang telah disepakati.
Di tengah besarnya dukungan dari perusahaan, tokoh publik, lembaga pemerintah, dan masyarakat, pencatatan yang terperinci menjadi penting untuk memastikan setiap bantuan dapat ditelusuri mulai dari penerimaan hingga pemanfaatannya.
Masyarakat masih membutuhkan pendanaan untuk menyelesaikan pembangunan rumah dan fasilitas pendukung. Karena itu, selain memastikan komitmen bantuan lainnya segera terealisasi, keterbukaan data mengenai total donasi, penggunaan anggaran, dan progres pembangunan menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus mempercepat pemulihan Desa Adat Sade.
